SEKILAS INFO
17-10-2019
  • 2 bulan yang lalu / Pengumuman Tes PMB Gelombang 2 Tahun Akademik 2019 ada dibagian Pengumuman
  • 3 bulan yang lalu / Kalender Akademik 2019/2020 bisa didownload dibagian Link Akademik
19
Mar 2019
0
Teror atas Nama Khilafah

Serial diskusi ketuhanan dari dogma menuju pembebasan (4)

Riwayat Pembakaran Rumah Fatimah

Sangat penting mengetahui peristiwa tentang ancaman pembakaran rumah Fatimah putri Rasulullah yang dilakukan oleh Sahabat Umar bin Khatab. Karena peristiwa tersebut selalu dijadikan pedoman kaum Syi’ah untuk membuktikan bahwa baiat yang dilakukan oleh Ali bin Thalib terhadap Abu Bakar tidak dilakukan secara suka rela, tetapi karena ada paksaan dan teror.

Jika kaum Syi’ah bisa membuktikan kebenaran peristwa ini, maka bisa dipastikan akan memperkuat argumen mereka bahwa kekhalifahan Abu Bakar adalah kekhalifahan yang ilegal karena dihasilkan melalui ancaman dan pedang. Maka wajar jika pengikut Syiah kemudian membully khalifah-khalifah sebelum Ali dan menyebut mereka telah merampas kekuasaan yang sah dari tangan Ali.

Sayangnya, sangat sulit bagi kelompok Ahlu Sunnah untuk menolak adanya peristiwa tersebut, karena cerita tentang peristiwa tersebut tidak hanya diceritakan oleh ulama-ulama Syi’ah, tetapi juga diceritakan oleh ulama-ulama Ahlu Sunnah sendiri. Diantara ulama atau sejarawan muslim yang menjelaskan peristiwa tersebut dalam buku-buku mereka adalah Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Qutaibah, Al-Baladzuri, Ya’kubi, Syahrastani dan masih banyak lagi.

Dalam kitab “Al-Musannaf fî al-Ahâdîs wa al-Âtsâr” karangan Abdullah bin Abi Syaibah (235H) diceritakan bahwa setelah Abu Bakar dibaiat menjadi khalifah, Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam berkumpul di rumah Fatimah untuk membahas masalah khilafah. Berita itu kemudian didengar oleh Umar bin Khatab. Maka segeralah Umar pergi ke rumah Fatimah  untuk menemui mereka. Kebetulan yang menemui saat itu adalah Fatimah putri Rasul.

Seketika, Umar yang memiliki tipikal keras dan tegas, berkata kepada Fatimah   “Hai Fatimah ! tidak ada yang aku cintai setelah Nabi selain engkau, tetapi hal itu tidak akan menghalangiku untuk membakar rumahmu beserta orang-orang yang ada di dalamnya jika mereka masih saja berkumpul di rumahmu”. Sesaat kemudian mereka pergi dan tidak kembali kecuali setelah berbaiat kepada Abu Bakar.

Dalam redaksi yang lain, Ibnu Qutaibah Al-Dainuri (276H), juga menceritakan peristiwa tersebut dalam bukunya “Al-Imâmah wa Siyâsah”. Bahwa pada suatu hari Abu Bakar melihat orang-orang yang tidak berbaiat kepadanya berada di rumah Ali r.a. Kemudian ia menyuruh Umar bin Khatab untuk mendatangi mereka dan meminta mereka berbaiat.

Umar kemudian pergi rumah Ali, dan sesampai di sana, Umar menyuruh orang-orang tersebut untuk keluar. Sayangnya, mereka tidak mau menuruti permintaan Umar, sehingga Umar marah dan bersumpah akan membakar rumah tersebut dan orang-orang yang berada di dalamnya, meski di dalam rumah tersebut ada Fatimah putri Nabi.

Di dalam kitab tersebut bahkan diceritakan bahwa ketika Umar gagal merayu Ali utuk berbaiat kepada Abu Bakar. Umar kemudian membawa rombongan pengikutnya untuk menangkap Ali dan membawanya ke hadapan Abu Bakar.

Sebenarnya Ibnu Qutaibah adalah salah satu ulama Ahlu Sunnah, tetapi kitab “Al-Imamah wa Siyasah” masih diragukan kebenarannya sebagai karangan asli beliau. Para peneliti kontemporer meragukan bahwa kitab tersebut ditulis oleh Ibnu Qutaibah, sebab para ulama-ulama terdahulu tidak pernah menyinggung kitab tersebut sebagai kitab karangan beliau. Sebagian menduga bahwa kitab tersebut ditulis orang Syi’ah yang kemudian dinasabkan kepada Ibnu Qutaibah.

Kalaupun Kitab “Al-Imamah wa Siyasah” bukan karangan Ibnu Qutaibah, itu bukan berarti membatalkan kebenaran peristiwa pembakaran rumah Fatimah yang dilakukan oleh Abu Bakar atau Umar, sebab masih banyak kitab lain yang menceritakan peristiwa tersebut.

Di dalam kitab “Tarikh Ya’qubi” karangan Ahmad bin Abi Ya’kub bin Ja’far bin Wahab (284H) juga diceritakan, bahwa suatu hari Abu Bakar dan Umar mendengar orang-orang dari kaum Muhajirin dan Anshor bersama Ali di rumah Fatimah. Kemudian orang-orang dari utusan Abu Bakar mendatangi mereka dan melakukan perusakan terhadap rumah Fatimah.

Melihat hal itu, Ali keluar dengan sebilah pedang untuk melawan mereka, tetapi dihadapi oleh Umar bin Khatab. Dan terjadilah perkelahian diantara keduanya yang kemudian dimenangkan oleh Umar. Dalam perkelahian itu, Umar mampu menjatuhkan pedang Ali.

Setelah peristiwa tersebut, satu persatu dari mereka berbaiat kepada Abu bakar, kecuali Ali bin Abi Thalib. Ia baru mau berbaiat kepada Abu Bakar setelah enam bulan lamanya, ada juga yang mengatakan setelah empat puluh hari.

Senada dengan hal itu, Al-Balâdzuri (279H) dalam bukunya “Jumal min Ansâb al-Asyrâf” juga meriwayatkan peristiwa di atas. Di dalam buku tersebut diceritakan bahwa Abu Bakar sempat mengirim surat kepada Ali supaya dia berbaiat kepadanya, tetapi sayangnya Ali tidak mau berbaiat. Sehingga Umar mendatangi rumahnya dengan sebuah ancaman yang memaksa Ali keluar rumah dan menemui Umar. Ia beralasan bahwa ia belum menemui Abu Bakar karena sedang menyelesaikan tugasnya mengumpulkan al-Quran.

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Ali tidak pernah berbaiat kepada Abu Bakar, kecuali setelah Fatimah meninggal dunia. Setelah istrinya meninggal baru kemudian Ali mencoba memperbaiki relasi dengan Abu Bakar dan berbaiat kepadanya. Ali berkata : bahwa tidak ada yang mencegahku untuk berbaiat kepada Abu Bakar, kecuali aku melihat ada sebagian hak ku yang diambil secara paksa.

Yang menarik adalah di akhir hayatnya, Abu Bakar sempat menyesali apa yang telah ia lakukan terhadap Fatimah dan Ali.Diantara penyesalan Abu Bakar adalah ia menyesal kenapa ia mau memikul tanggung jawab sebagai khalifah dan tidak menyerahkannya saja kepada Umar. Ia juga menyesal karena  dahulu ia tidak sempat menanyakan kepada Nabi Muhammad tentang siapa yang seharusnya menggantikan beliau sebagai khalifah, andai dia sempat bertanya saat itu tentu tidak akan terjadi perselisihan ini. Abu bakar juga menyesal karena telah memeriksa rumah Fatimah dan berselisih dengannya.

Sudut pandang politik dan agama

Membaca peristiwa di atas tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja, apalagi sampai mengabaikan konteksnya. Di sisi lain, penulis juga tidak sepakat, jika ada seseorang yang melakukan pembelaan secara membabi buta terhadap satu kelompok tertentu tanpa melihat fakta dan data yang ada.

Berdasarkan data di atas -meskipun dengan berbagai redaksi yang berbeda-, memang tampak jelas bahwa ada tekanan terhadap Ali dan kelompok yang berseberang untuk berbaiat terhadap Abu Bakar. Entah itu hanya sekadar ancaman atau memang benar-benar terjadi tindakan kekerasan yang kemudian dikuti dengan pembakaran atas rumah Fatimah.

Melihat karakter Umar yang keras dan Abu Bakar yang tegas, penulis meyakini bahwa penguasa saat itu (Abu Bakar dan Umar) telah melakukan tekanan terhadap Ali dan kelompok oposisi lainnya. Hanya saja memang penulis masih belum yakin apakah pembakaran rumah Fatimah dengan segala kisah dramatisnya benar-benar terjadi atau hanya dibesar-besarkan saja.

Mekipun begitu bukan berarti apa yang dilakukan Abu Bakar terhadap Ali dan kelompok oposisi lainnya dianggap sebagai suatu tindakan yang salah secara mutlak. Hal itu tergantung dari sudut manakah kita memandangnya. Paling tidak kita harus bisa melihat peristiwa tersebut dari dua sudut pandang yang berbeda, yaitu sudut pandang politik dan sudut pandang agama.

Jika dilihat dari sudut pandang agama atau teks, maka kaum Syi’ah mempunyai keunggulan tersendiri. Karena sejak awal mereka memang membangun logika berfikirnya dengan nash. Bahwa imamah atau khilafah harus diputuskan dengan wahyu, bukan berdasarkan kesepakatan manusia atau logika.

Masalahnya adalah tidak ada  kesepakatan dari para sahabat untuk memilih khalifah dengan menggunakan wahyu atau teks. Fakta yang ada justru memperlihatkan bahwa setiap golongan umat Islam saat itu, berlomba-lomba  mengajukan calon masing-masing untuk diajukan sebagai pengganti Rasulullah. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidak memberi pesan yang jelas tentang siapa pengganti beliau.

Kita bisa melihat bahwa saat itu, kaum Muhajirin mengajukan Abu Bakar sebagai pengganti  Rasulullah, begitu juga kaum Anshor yang juga mempunyai calon sendiri yaitu Sa’ad bin Ubadah. Sedangkan dari keluarga Nabi bahkan ada dua calon yaitu Abbas bin Abdul Munthalib (paman Nabi) dan Ali bin Abi Thalib (keponakan Nabi).

Bagi penulis adanya calon-calon tersebut mengikis keyakinan bahwa penerus Nabi telah ditunjuk sebelumnya. Ali memang didukung oleh beberapa pihak untuk menjadi pengganti Nabi.  Tetapi menurut penulis dukungan tersebut bersifat minoritas, hal itu terlihat dari mudahnya Abu Bakar dan Umar menekan Ali.

Disisi lain, kalau kita melihat perselisihan di atas dari sisi politik, maka sikap Ali yang tidak mau membaiat Abu Bakar yang telah dipilih secara mayoritas bisa dianggap sebagai tindakan makar. Karena itu, wajar jika Abu Bakar dan Umar melakukan tindakan tegas terhadap Ali dan kelompok oposisi lainnya.

Tindakan yang tegas juga dilakukan Abu Bakar terhadap tiga kelompok lainnya, yang  dianggap membangkang terhadap pemerintahan Abu Bakar. Diantara kelompok tersebut adalah orang-orang yang murtad, Nabi-nabi palsu dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat.

Penulis melihat bahwa pembakangan tiga golongan di atas bukan murni pembangkangan terhadap iman atau agama, tetapi lebih dari itu, mereka sebenarnya ingin membangkang terhadap pemerintahan yang sah.

Pertama-tama, mereka menolak mengakui pemerintahan Abu Bakar dengan cara tidak membayar zakat. Kemudian mereka berusaha melakukan tindakan makar dengan cara murtad. Dan selanjutnya mereka berusaha memciptakan pemerintahan tersendiri dengan cara menjadikan dirinya sebagai Nabi palsu.

Maka apa tindakan yang pantas bagi orang-orang yang makar terhadap negara atau  pemerintahan yang sah? Apakah kita akan mengasihi mereka, atau memang sudah seharusnya kita melakukan tindakan yang tegas?!

 

Pengumuman

PEMBAGIAN KELAS MAHASISWA ANGKATAN 2019/2020

Jadwal Semester Gasal 2019/2020

Hasil Akhir Seleksi PMB 2019 – Jalur Beasiswa Miskin Berprestasi

1
Silahkan kirim pesan kepada kami..
Insyallah akan kami respon secepat mungkin..
Terimakasih..
Powered by