SEKILAS INFO
09-12-2019
  • 4 bulan yang lalu / Pengumuman Tes PMB Gelombang 2 Tahun Akademik 2019 ada dibagian Pengumuman
  • 5 bulan yang lalu / Kalender Akademik 2019/2020 bisa didownload dibagian Link Akademik
13
Apr 2019
0
Romantisme Para Pengusung Khilafah

Serial diskusi ketuhanan dari dogma menuju pembebasan (5)

Oleh : Muh Subhan Ashari

What is romantisme?

Dalam kamus bahasa Indonesia, romantis bisa diartikan sebagai sesuatu yang mesra atau mengasyikan. Kata ini identik dengan kata cinta atau kasih sayang. Maka seorang yang melakukan pasangannya dengan penuh istimewa, ia bisa disebut sebagai seorang yang romantis.

Adapun romantisme dalam dunia akademik adalah sebuah haluan kesusastraan yang lahir di akhir abad ke 18. Aliran ini mengutamakan perasaan, pikiran dan tindakan spontanitas. Dalam dunia seni dan drama, aliran romantisme mengutamakan imajinasi, emosi dan sentimen idealisme.

Sedangkan dalam kajian keagamaan, romantisme -menurut penulis – adalah sebuah pandangan yang ingin kembali kepada masa lalu karena kejayaan, kehebatan atau kemakmurannya, meski tanpa melihat secara detail apa yang ada dibalik kejayaan dan kehebatan di masa lalu tersebut.

Melihat masa lalu hanya dari sisi baiknya saja, tanpa melihat sisi buruknya, bisa menyebabkan seseorang jatuh pada yang namanya romantisme buta. Romantisme buta seperti ini justru seringkali menghalangi kita untuk move on atau bangkit dari keterpurukan agar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Cita-cita Khilâfah

Bagi penulis, cita-cita menghadirkan kembali Khilâfah Islâmiyyah adalah salah satu contoh sederhana romantisme buta, terutama jika hal itu dilakukan tanpa melihat konteks yang ada. Apalagi jika cita-cita tersebut dilakukan dengan cara memaksa, membenturkan dengan yang lain atau tanpa melakukan adaptasi dengan kondisi zamannya.

Menurut penulis, perbedaan sistem dan bentuk negara-negara yang begitu besar di era modern dengan sistem dan bentuk negara pada zaman kekhalifahan gagal difahami oleh para roman picisan. Akibatnya, mereka kemudian banyak terjebak pada perjuangan terhadap simbol-simbol belaka yang jauh dari esensi ajaran Islam itu sendiri.

Lebih dari itu, sampai saat ini para pengusung khilâfah sendiri tidak memiliki kesepakatan tentang tentang bentuk dan konsep negara khilâfah itu sendiri. Mereka juga belum sepakat tentang sistem pemerintahan atau aturan kenegaraan yang akan dijalankan di dalam negara kehalifahan nanti.

Hal itu karena sistem khilâfah dalam Islam sebenarnya berbeda dari satu generasi ke generasi lain. Khalifah Abu Bakar misalnya, ia dipilih secara demokrasi, sedangkan kekhalifahan Umar justru ditunjuk langsung oleh Abu Bakar. Adapun  Usman, ia dipilih secara demokrasi parlementer, sedangkan Ali bin Abi Thalib, ia dipilih secara demokrasi meskipun tidak penuh,-karena masih banyak kelompok yang menolak kekhalifahan Ali sampai di akhir kekhalifahannya-. Sedangkan kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah dan Turki Usmani justru menganut sistem monarki. Yang mana yang akan kita ikuti?

Maka ketika ISIS (Islamic State Irak and Syiria) mampu mengawali wujudnya kembali  negara kekhalifahan Islam, justru mereka malah mendapat tentangan keras dari negara-negara Islam dan masyarakat muslim itu sendiri. Selain karena sistem pemerintahan ISIS bertentangan dengan negara-negara muslim sekitar, berdirinya kekhalifahan ISIS justru mengakibatkan krisis kemanusian yang begitu besar di Timur-Tengah,-di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim-.

Sampai saat ini, kelompok-kelompok pengusung khilâfah yang lain juga belum bisa memberikan bukti yang kongkrit, bahwa ideologi mereka bisa mengembalikan kejayaan Islam tanpa memberi ketakutan kepada yang lain.

Kelompok-kelompok seperti Al-Qaeda yang saat ini sudah memiliki jaringan global, Taliban di Afghanistan, atau Boko Haram di Negeria, serta kelompok-kelompok lain yang bercita-cita mendirikan daulah Islam, mereka semua juga belum memberikan bukti –paling tidak- untuk diri mereka sendiri bahwa mereka bisa lebih baik dari Barat –negara yang selama ini mereka kafirkan-. Sebaliknya mereka justru lebih banyak melakukan teror dan membuat krisis kemanusian.

Barangkali para roman picisan ini berfikir, bahwa jika bangsa Islam kembali kepada sistem khilâfah, kemudian menerapkan apa yang dianggap mereka sebagai “syari’at Islam”, maka semua masalah yang menghinggap di kalangan umat  muslim akan berakhir seketika. Tidak semudah itu Romeo !!!

Demikian pula dengan apa yang dilakukan oleh kelompok pengusung khilâfah lain seperti Hizbut Tahrir. Meskipun dengan cara yang berbeda yaitu melalui jalur politik –atau tidak mengangkat senjata-, kehadirannya tidak serta merta disambut oleh masyarakat maupun negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim. Negara-negara seperti Mesir, Arab Saudi, UEA dan bahkan negara Indonesia menolak kehadiran organisasi tersebut.

Hizbut Tahrir yang sempat menguasai Mesir pada tahun 2011 setelah melalu kudeta rakyat yang berhasil melengserkan Presiden sebelumnya yakni Husni Mubarak -yang telah berkuasa selama 30 tahun-, nyatanya tidak mampu bertahan lama. Kekuasaan Hizbut Tahrir hanya bertahan kurang dari dua tahun.  Ia dilengserkan oleh kudeta rakyat yang dibantu oleh militer pada tanggal 3 Juli 2013.

Problem utamanya menurut penulis adalah karena Hizbut Tahrir terlalu sibuk mengurusi simbol agama dan mengabaikan tugas utama sebagai negara yaitu mengurusi perut rakyat. Keinginan rakyat sebenarnya simpel yaitu mereka ingin mudah mendapatkan pekerjaaan, sehingga bisa bisa memenuhi kebutuhan asasi mereka. Selain itu, mereka ingin ekonomi negara segera membaik. Sayangnya Hizbut Tahrir tidak mampu mengatasi hal itu.

Esensi Kekhalifahan

Penulis sendiri berpendapat bahwa memang benar, Islam pernah meraih banyak kejayaan di masa kekhalifahan, tetapi bukan berarti di dalam sistem khilâfah tersebut tidak ada masalah sama sekali. Sebaliknya jika kita melihat sejarah secara detail maka kita akan tahu bahwa transisi khilâfah dari satu khilâfah ke khilâfah yang lain tidak bisa lepas dari kudeta militer, pembunuhan maupun peperangan, meskipun masih dalam satu agama yakni Islam.

Bukankah transisi pemerintahan dari Khalifah Usman ke Kehalifahan Ali dilewati dengan pembunuhan terhadap Sahabat Usman? –meskipun penulis yakin bahwa hal itu tidak dilakukan oleh Ali- tapi Bukankah untuk mempertahankan kekhalifahannya, Ali harus bermusuhan bahkan berperang melawan Istri Nabi yakni Siti Aisyah, dan juga melawan Sahabat Nabi yang lain seperti Talhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam dalam perang Jamal?.

Bukankah kekhalifahan Muawiyyah didapat dengan cara memberontak terhadap Sayyidina Ali? Bukankah kekhalifahan Abbasiyyah juga didapat dengan cara mengkudeta kekhalifahan sebelumnya yakni kekhalifahan Umayyah, kemudian keluarga mereka diburu, supaya tidak ada yang bisa balas dendam, hingga ada salah satu keluarga Mu’awiyyah yang bernama Abdurrahman Ad-Dakhil harus susah payah menyelamatkan diri hingga ke negeri Spanyol?!

Ada banyak nyawa yang hilang saat transisi kekhalifahan Islam. Penulis berfikir bahwa hal itu bukan karena ingin menjaga atau membela agama mereka, sebaliknya kekuasaanlah yang menyebabkan mereka menghalalkan darah saudaranya sendiri yang seiman.

Menurut penulis, perpindahan kekuasaan dari satu kekhalifahan ke kekhalifahan yang lain, tidak hanya sekedar transisi damai berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang hakiki. Transisi kekhilafahan juga seringkali dilalui dengan cara melawan ajaran syariat Islam itu sendiri. Di satu sisi transisi khilâfah tersebut mununjukkan kebangkitan terhadap khilâfah yang baru, tetapi di sisi yang lain ia juga merefleksikan kepada runtuhnya khilâfah yang lama. Artinya kita tidak bisa menjustifikasi sepihak kebesaran kekhilafahan Islam  pada masa lalu, karena di saat yang sama, ada kekhalifahan Islam yang lain yang sedang mengalami keruntuhan.

Bagi penulis perjuangan terhadap berdirinya khilâfah Islam seharusnya tidak hanya sebatas pada simbol keagamaan semata. Lebih dari itu, perjuangan  terhadap kekhilâfahan seharusnya lebih mengedepankan esensi ajaran politik Islam itu sendiri, yaitu bagaimana menciptakan pemerintahan yang jujur, baik dan berkeadilan.

Tidak masalah dengan nama apapun, entah republik atau kerajaan, selama pemerintahan dijalankan dengan baik dan berkeadilan maka sebenarnya hal itu sudah bisa kita sebut sebagai kekhalifahan Islam atau  pemerintahan Islam.

 

Pengumuman

Tes BTQ dan Khutbah Jum’at Reguler

PEMBAGIAN KELAS MAHASISWA ANGKATAN 2019/2020

Jadwal Semester Gasal 2019/2020

1
Silahkan kirim pesan kepada kami..
Insyallah akan kami respon secepat mungkin..
Terimakasih..
Powered by