SEKILAS INFO
17-10-2019
  • 2 bulan yang lalu / Pengumuman Tes PMB Gelombang 2 Tahun Akademik 2019 ada dibagian Pengumuman
  • 3 bulan yang lalu / Kalender Akademik 2019/2020 bisa didownload dibagian Link Akademik
25
Mar 2019
0
Gagasan Tasawuf Salafi Yusuf Qardhawi

Jejak digital para ulama (2)

Ibnu Taimiyyah murabbi sufi

Nama Yusuf Qardhawi sudah tidak asing lagi bagi kalangan era tahun 90-an bahkan hingga saat ini, khususnya bagi kaum islamis atau kaum salafiyyin. Ia adalah seorang cendikiawan muslim, juga seorang penulis produktif yang lahir di Mesir tahun 9 September 1926 M.

Selain sebagai seorang penulis, ia juga aktif dalam bidang politik. Tercatat ia tergabung dalam partai oposisi Mesir “Ikawan Al-Muslimin” -suatu partai yang bercita-cita ingin mendirikan negara Islam dan menerapkan syariat Islam bagi pemeluknya-. Karena keikut sertaannya dalam partai tersebut, ia sempat beberapa kali keluar masuk penjara karena dianggap melawan penguasa Mesir saat itu.

Dalam hal politik, ia sangat mengidolakan tokoh pendiri gerakan partai politik Ikhwan al-Muslimin yaitu Hasan Al-Bana. Sedangkan dalam pemikiran keagamaan, ia terpengaruh oleh dua tokoh junjungan kaum salaf yaitu Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnu Qayyim Al-jauziyah.

Kekagumannya terhadap tokoh-tokoh di atas, sangat mempengaruhi corak berfikir Yusuf Qardhawi, terutama dalam hal tasawuf. Karena itu, baginya tasawuf yang paling sahih adalah tasawuf yang dianut oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan Hasan Al-Banna.

Salah satu pendapat Ibnu Taimiyyah sering menjadi rujukan bagi kaum salaf tentang tasawuf adalah kritik Ibnu Taimiyyah terhadap kaum sufi yang dianggap telah keluar dari Islam.

Menanggapi hal tersebut, Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa “orang-orang yang mengkritik tasawuf secara membabi buta, hingga seperti tidak ada kebaikan dalam tasawuf, kemudian menyandarkan pendapat tersebut kepada Ibnu Taimiyyah, maka mereka sejatinya telah berbuat dzalim kepada Ibnu Taimiyyah”.

Jika kita membaca fatwa Ibnu Taimiyyah, sejatinya beliau sama sekali tidak bermaksud menjatuhkan tasawuf atau pun kaum sufi, beliau hanya ingin berusaha bersikap adil terhadap mereka.

Ibnu Taimiyyah mengatakan di dalam fatwanya : “bahwa orang-orang sufi adalah orang yang sungguh-sungguh taat kepada Allah, di antara mereka ada yang berlomba-lomba dalam kebaikan (sâbiqun ilâ al-khairât), ada juga yang sedang-sedang saja dalam beribadah (muqtasidûn)  dan ada pula kelompok sufi yang menyimpang atau dhalim dan berbuat maksiat kepada Tuhan”. Dalam hal ini jelas, bahwa Ibnu Taimiyyah tidak menghukumi tasawuf dan kaum sufi sama rata, ia menyadari bahwa kaum sufi terdiri dari berbagai kelompok dan karakter yang berbeda-beda.

Menurut Yusuf Qardhawi, kelompok sufi baginya sama seperti kelompok keagamaan yang lain semisal fuqaha’, mutakallimin, mufassirin dan lain sebagainya. Setiap dari kelompok tersebut tentu tidak semuanya saleh, ada juga sebagian anggotannya yang menyimpang.

Yusuf Qardhawi beranggapan bahwa Ibnu Taimiyyah adalah salah satu tokoh spiritual dalam ilmu tasawuf, ia juga salah satu rabbani sufi, begitu juga dengan muridnya Ibnu Qayyim al-Jauzi. Hal ini tampak pada ungkapan Ibnu Taimiyyah ketika dipenjara “Penjara bukan masalah bagiku, penjara justru menjadi tempat khalwatku, pengusiran diriku adalah jalan untuk hijrah, sedangkan kematian bagiku adalah syahid”.

Selain itu, Ibnu Taimiyyah juga mempunyai dua jilid buku tentang tasawuf, yang pertama bukunya berjudul Tasawuf dan yang kedua berjudul Sâlik. Sedangkan muridnya Ibnu Qayyim al-Jauzi justru lebih banyak lagi memiliki buku-buku bernuansa sufi, sebut saja ‘Iddat al-Shabirin wa Dzakhîrat al-Syâkirîn, Madârij Sâlikîn baina Manâzil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in ; Syarah dari kitab Manâzil Sâ’irîn karya Abi Isma’il al-Harawi, Al-jawâb al-Kâfi li Man Sa’ala an Tsamrah al-Du’a, Madârij al-Sâlikîn baina Manâzil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’în dan masih banyak lagi.

Syirik dan bid’ah kaum sufi

Terhadap orang-orang yang mengatakan tasawuf telah keluar dari Islam, Yusuf Qardhawi tentu tidak sependapat. Menurutnya,menghukumi seseorang telah keluar dari Islam atau kafir harus mempertimbangkan alasan rasional yang kuat, juga disertai dengan dalil Al-Quran yang qat’i (pasti). Menurutnya menghukumi kafir terhadap orang lain itu sangat berat, bahkan lebih berat daripada pembunuhan. Karena itu, kita tidak boleh gampang mengkafirkan orang lain.

Dalam masalah-masalah yang sering dianggap syirik dan bid’ah seperti wali dan karamah, Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa karamah adalah suatu kemampuan yang luar biasa yang dianugerahkan Allah kepada hambanya seperti kepada para wali.

Sebagai seorang Ahlu Sunnah tentu beliau percaya bahwa karamah itu ada, bahkan pembahasan karamah juga diajarkan di Al-Azhar melalui kitab “Jauharat Tauhid” karya Ibrahim al-Laqani (1041M). Hanya saja Yusuf Qardhawi menekankan bahwa seorang wali yang hakiki tidak megedepankan karamah tetapi mengedepankan istiqamah. Hal ini seperti dijelaskan dalam  firman Allah :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ، الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (يونس : 62)

Artinya : Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada diri mereka dan mereka tidak bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang senantiasa beriman dan bertakwa.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (فصلت : 30)

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang berkata “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu mereasa bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan surge yang telah dijanjikan kepadamu”.

Adapun dalam masalah tatacara dzikir kaum sufi yang sering dianggap berlebih-lebihan seperti berzikir sambil menari, berzikir secara berjama’ah atau dengan suara keras dan lain sebagainya, Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa berzikir sambil menari tidak pernah dilakukan oleh para Sahabat, karena itu seorang ulama yang alim seperti Izuddin bin Abdus Salam menolak zikir semacam ini.

Tetapi ia kemudian menegaskan bahwa zikir seperti di atas tidak termasuk melampaui batas dalam beribadah, tidak juga perbuatan menghalalkan suatu yang diharamkan. Hal itu berbeda dengan orang yang menyatakan khulul atau wahdatul wujud, atau mengaku terbebas dari kewajiban agama karena telah mencapai puncak kesufian, kalau semacam ini tidak hanya agama Islam yang menolak, bahkan hampir semua agama monolak konsep ini.

Yusuf Qardhawi juga menanggapi konsep zuhud yang selama ini sering disalah artikan. Baginya zuhud tidak selalu meninggalkan dunia, yang terpenting dari zuhud adalah hati kita. Memilki harta tidak jadi soal selama hati kita memilih akhirat. Karena itu ia mengatakan “jadikan dunia di genggam tanganmu, dan akhirat di genggam hatimu”.

Sedangkan anggapan yang mengatakan bahwa orang-orang sufi lemah dihadapan penjajah, ia menjawab bahwa hal itu tidak benar. Ada banyak gerakan sufi yang mengangkat senjata melawan penjajah sebut saja tarikat Sanusiah di Libya dan tokoh sufinya Umar al-Mukhtar yang aktif melawan penjajahan Prancis, Amir Abdul Qadir sufi dari al-Jazair yang punya kitab tasawuf namanya “Mawaqif fi Tasawuf” juga aktif melawan penjajahan Prancis, ada juga Amir Abdul Karim al-Khatabi yang angkat senjata melawan penjajahan spanyol, juga Muhammad Al-Mahdi al-Kabir yang ikut memerangi penjajah inggris dan lain sebagainya.

Tasawuf salafi Yusuf Qardhwi

Yang menarik dari Yusuf Qardhawi adalah gagasan beliau yang ingin memadukan antara tasawuf dan salaf. Sebagai seorang salaf yang tidak antipati terhadap tasawuf, ia ingin mengusung perlunya “men-salaf-kan sufi dan men-sufi-kan salaf”.

Gagasan ini sebenarnya diambil dari salah satu pemikir Suriah yang bernama Muhammad Mubarak. Ia mengatakan bahwa kritik kaum salaf terhadap tasawuf itu benar adanya, tetapi disisi lain, ia menyadari bahwa kaum salaf juga memiliki kekurangan, mereka sangat faqir dalam hal spiritualitas.

Salaf dikenal dengan ketatnya dalam berpegang kepada al-Quran dan Sunnah yang sahih, sedangkan kaum sufi tidak jarang mengambil hadis lemah untuk mendorong kegiatan dalam beribadah yang penuh akan spiritualitas. Keduanya sama-sama penting, antara syariat dan spiritualitas harus seimbang, karena itu kemudian muncul istilah  “men-salaf-kan sufi dan men-sufi-kan salaf”. Inilah gagasan “tasawuf salafi” yang ingin diusung oleh Yusuf Qardhawi.

Pengumuman

PEMBAGIAN KELAS MAHASISWA ANGKATAN 2019/2020

Jadwal Semester Gasal 2019/2020

Hasil Akhir Seleksi PMB 2019 – Jalur Beasiswa Miskin Berprestasi

1
Silahkan kirim pesan kepada kami..
Insyallah akan kami respon secepat mungkin..
Terimakasih..
Powered by