Teologi Islam : Antara Politik dan Agama

Serial diskusi ketuhanan dari dogma menuju pembebasan (2)

Oleh : Muh Subhan Ashari

Benih-benih timbulnya aliran teologis

Teologi Islam atau yang popular dikenal dengan sebutan ilmu kalam tidak lahir di dunia Islam secara tiba-tiba, tetapi ia lahir dengan latar belakang dan sejarah yang panjang. Kemunculannya pun tidak seketika, tetapi membutuhkan proses waktu yang lama, bertahun-tahun bahkan berabad-abad.

Yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa teologi Islam yang selama ini kita kenal sebagai sebuah ilmu tentang ketuhanan yang maha suci dan penuh kasih sayang, ternyata tidak bisa lepas dari jeratan politik yang rakus, penuh dosa dan darah.

Ia tidak lahir murni dari wahyu Tuhan, tetapi justru lahir karena perbedaan politik dalam memilih kepala pemerintahan.

Ketika Nabi Muhammad meninggal tahun 11 H, bisa dibilang beliau tidak meninggalkan pesan yang jelas tentang siapa pengganti beliau.  Karena itu, umat Islam berselisih hebat tentang siapa yang pantas menggantikannya.

Bahkan perselisihan itu dilakukan sesaat setelah mereka mendengar Nabi wafat, pun sebelum jenazah Nabi dikembumikan. Yang lebih ngeri lagi, perselisihan itu berubah dengan cepat menjadi perselisihan agama, yang kemudian menyebabkan perpecahan antara umat Islam.

Tampaknya perselisihan itu sudah diprediksi Nabi sebelumnya, saat itu beliau mengatakan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, sedangkan umat Yahudi dan Nashrani berturut-turut akan terpecah menjadi 71 dan 72 golongan.

Abu Hasan Al-Asy’ary dalam buku “Maqâlât a-Islâmiyyîn” juga Abu Mansur al-Bahgdadi –penulis buku “al-Farqu baina al-Firâq”- mengatakan bahwa perselisihan yang pertama terjadi di antara umat Islam adalah perselisihan tentang “imâmah” atau khilafah.

Karena perselisihan khilafah tersebut, umat Islam saling mengkafirkan dan menyesatkan satu sama yang lain. Mereka menganggap hanya golongan mereka lah yang paling benar.  Sehingga dari sini, timbullah berbagai aliran keagamaan dalam Islam yang saling bermusuhan.

Dua kelompok berseteru

Paling tidak ada dua golongan yang berselisih tentang pengganti Nabi. Dua golongan tersebut adalah golongan Muhajirin dan Ansor.

Saat itu kaum Muhajirin yang dipimpin Abu Bakar dan diikuti oleh para pendukungnya seperti Umar, Abu Ubaidah, Abu Jarrah dan kaum muhajirin yang lain melakukan konsolidasi-konsolidasi dan mengajukan Abu Bakar sebagai calon pengganti Rasulullah.

Di sisi lain, kaum Ansor yang dipimpin oleh Sa’ad bin Ubadah juga tidak tinggal diam. Mereka merapatkan barisan di tempat pertemuan yang bernama Saqifah atau sebuah teras di rumah Bani Sa’idah, tentu dengan tujuan sama yaitu untuk menentukan siapa yang pantas menggantikan Rasulullah.

Kaum Ansor berpendapat bahwa hanya dari golongan merekalah yang pantas menggantikan Rasulullah. Mereka beralasan bahwa selama 13 tahun Nabi berdakwah di Makkah, bisa dibilang Nabi Muhammad tidak punya pengikut atau sangat sedikit sekali pegikutnya. Namun setelah Nabi hijrah ke Madinah, dakwah Nabi mulai menampakkan hasilnya. Hal itu tidak lain karena bantuan kaum Ansor yang berdoyong-doyong membela perjuangan Rasulullah.

Sebaliknya kaum Muhajirin juga berpendapat bahwa merekalah yang lebih pantas menggantikan Rasulullah. Hal ini karena mereka adalah orang yang pertama kali percaya kepada beliau. Mereka juga orang-orang yang tabah, tidak gentar meski jumlahnya sedikit.

Selain itu, mereka juga berasal dari suku yang sama dengan suku Nabi dan keluarga Nabi yaitu suku Quraisy. Sebagaimana yang kita tahu bahwa bangsa Arab tidak akan tunduk kepada orang yang tidak mepercayai dan memulyakan kekuatan suku Qurasiy. Apalagi Nabi pernah bersabda “al-aimmatu min Quraisy” yang artinya imam itu dari bangsa Quraisy.

Setelah terjadi perdebatan yang cukup lama, maka terpilihlah Abu Bakar As-Siddiq dari suku Quraisy untuk dibaiat menjadi pengganti Rasulullah sebagai pemimpin umat Islam. Hanya saja, Ali bin Abi Thalib yang mendengar dibaiatnya Abu Bakar, tampak tidak begitu senang.

Jika yang menjadi alasan sebagai pengganti Nabi adalah orang terdekat beliau, maka Ali lah orang yang paling dekat dengan Nabi. Dia adalah keponakan Nabi, dia juga yang paling awal beriman kepada Nabi Muhammad. Dia juga suami dari putri tercinta Nabi yakni Fatimah.

Ali tidak ikut dalam perdebatan maupun pertemuan di atas, karena ia sibuk mengurus jenazah Rasulullah Saw. Dalam hal ini Ali merasa ditinggal, tidak diajak rembugan, sehingga Ali belum mengakui baiatnya Abu Bakar kecuali setelah selang beberapa waktu.

Para pendukung Ali juga tidak terima atas keputusan tersebut, tetapi karena Ali tidak melakukan suatu pergerakan yang masif, maka pendukungnya juga tidak melakukan suatu hal yang berlebihan. Hanya saja mereka tetap meyakini bahwa hanya Ali yang pantas menggantikan Nabi, mereka menyebut Abu Bakar sebagai perebut kekuasaan dari tangan Ali.

Mereka beralasan bahwa Nabi Muhammad telah berwasiat sebelumnya kepada umat Islam bahwa Ali adalah pengganti beliau. Dalam sebuah hadis yang dikenal dengan sebutan hadis Ghadir Khum, Nabi mengatakan : “barangsiapa yang menganggap aku sebagai maula (pemimpin), maka Ali adalah maulanya”.

Hadis ini diucapkan Nabi setelah beliau kembali dari haji yang terakhir yakni haji wada’.  Usai pengucapan ini, orang-orang berduyun-duyun mengucapkan selamat kepada Ali, termasuk Abu Bakar dan Umar sendiri. Mereka berkata “selamat untukmu wahai putera Abu Thalib! Kini kau adalah maulaku dan maula setiap orang mukmin!”.

Antara pendukung Abu Bakar dan Ali

Perbedaan pendapat antara golongan Ali dan Abu Bakar di kemudian hari melahirkan dua kelompok yang saling berseberangan. Nanti orang-orang yang mendukung Ali sebagai khalifah disebut sebagai Syi’ah, sedangkan golongan yang mendukung Abu Bakar sebagai khalifah disebut sebagai Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Dengan pernyataan ini bukan berarti penulis mengatakan bahwa saat itu telah muncul dua aliran tersebut. Penulis masih meyakini bahwa terma-terma Syi’ah dan Ahlu Sunnah masih belum dikenal saat itu, apalagi terma Asy’ariyyah Ahlu Sunnah, tokoh pendirinya pun bahkan belum  sempat lahir.

Imam Asy’ari dalam bukunya “al-Luma’” mengatakan bahwa saat itu ada tiga golongan yang berselisih paska wafatnya Nabi. Pertama adalah golongan pendukung kekhalifahan Ali, kedua golongan pendukung kekhalifahan Abbas bin Abdul Munthalib paman Nabi, dan ketiga adalah golongan pendukung kekhalifahan Abu Bakar.

Hanya saja -meskipun sempat tertunda beberapa waktu- Ali bin Abi Thalib dan Abbas pada akhirnya berbaiat kepada Abu Bakar. Dengan demikian, maka semakin absahlah kekhalifahan Abu Bakar.

Kaum Ahlu Sunnah berpendapat bahwa kekhalifahan Abu Bakar sebenarnya sudah absah sejak ada ijma’ umat Islam yang dilakukan di rumah Bani Saqifah. Hanya saja dengan tambahan baiatnya dua golongan yang berseberangan tersebut, maka kesahihan kekhalifahan Abu Bakar sudah tidak bisa dibantah lagi.

Tetapi pernyataan di atas dibantah keras oleh gologngan Syi’ah pendukung Ali. Mereka berpendapat bahwa pembaiatan Ali terhadap Abu Bakar tidak dilakukan dengan suka rela, tetapi karena ada paksaan.

Pada suatu hari Abu Bakar mencari tahu siapa saja yang menolak berbaiat kepadanya dan siapa saja yang mendukung Ali. Kemudian ia menyuruh Umar bin Khatab untuk mengejar mereka sehingga Umar menemukan Ali dan Zubair di rumah Fatimah. Dari situ, Umar berteriak-teriak ingin membakar rumah Fatimah demi mengejar keduanya, meski Fatimah dan anak-anaknya berada di dalam rumah.

Sejak kejadiaan itu, Fatimah marah besar kepada Abu Bakar dan Umar. Kemarahan tersebut bahkan ia pendam hingga akhir hayatnya. Fatimah berpesan kepada suaminya, kelak ketika ia meninggal, ia meminta suaminya menyembunyikan kuburannya dari tangan Abu Bakar dan Umar. Dan pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh Ali, sehingga tak seorang pun sampai saat ini mengetahui secara pasti makam sayyidatuna Fatimah.

Adapun ijma’ yang dinyatakan sebagai dasar dipilihnya Abu Bakar di rumah Bani Sa’idah bukanlah pernyataan yang kokoh. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi, sementara banyak pemuka sahabat seperti Ali, Abbas dan anggota Bani Hasyim lain tidak ikut serta dalam baiat tersebut.

Dan masih banyak lagi sahabat Nabi yang tidak ikut berbaiat kepada Abu Bakar saat itu seperti Usamah bin Zaid, Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Miqdad bin Aswad, Ammar bin Yasir, Huzaifah bin Yaman, Khuzaimah bin Tsabit, Abu Buraidah al-Aslami, Barro’ bin Azzib, Ubai bin Ka’ab, Sahal bin Hunaif, Sa’ad bin Ubadah, Qais bin Sa’ad, Abu Ayyub al-Anshari, Jabir bin Abdullah, Khalid bin Sa’ad dan lain sebagainya. Dengan demikian kekhalifahan Abu Bakar saat itu, sebenarnya masih kontroversi.