oleh: Abd. Halim*

Dalam beberapa pertemuan di kelas saat ngajar, saya kadang-kadang bertanya kepada teman-teman santri atau mahasiswa tentang apa itu hidup bahagia? Jawabannya sangat beragam. Rata-rata jawaban mereka mengekpresikan kondisi psikologis yang sedang dialami. Ada yang menjawab kalau hidup bahagia itu hidup tanpa tekanan. Ada juga yang menjawab hidup bahagia itu adalah jika terpenuhi segala kebutuhan; ada pula yang menjawab kalau hidup bahagia itu kalau bebas dari masalah. Ada juga yang menjawab bahwa hidup bahagia itu ketika bisa menggapai cita-cita.

Kembali ke pertanyaan tentang apa itu bahagia, sebenarnya pertanyaan ini berangkat dari salah satu ayat favorit saya dalam Alquran. Ayat yang saya maksud adalah Q.S Al-Nahl: 97 yang kira-kira maknanya sebagai berikut, “Siapa saja yang beramal shaleh baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia adalah beriman (mu’min), maka sungguh niscaya akan Kami anugerahi dia kehidupan yang baik (hayatan thayyibah)”.

Ayat ini memberikan pesan bahwa siapa saja baik laki-laki maupun perempuan yang mau melakukan kebaikan-kebaikan apapun bentuknya, maka ia akan dianugerahi kehidupan yang baik (hayâtan thayyibah). Dalam Bahasa yang lebih sederhana hayâtan thayyibah ini adalah hidup bahagia. Para pakar tafsir mencoba menjelaskan apa makna hidup bahagia ini. Al-Qurthubi, misalnya, dalam Tafsir Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa setidaknya ada beberapa hal yang akan membuat seseorang bahagia.

Pertama, adalah rezeki yang halal. Kita pahami rezeki ini dengan pemahaman yang luas, ia bisa berupa harta, istri, anak, rumah, kendaraan dan lain-lain. Rezeki yang halal nampaknya sepele tetapi memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan kita. Kata almarhum K.H. Hasyim Muzadi dalam suatu kesempatan, rezeki yang halal akan mengantarkan pada hati yang bersih dan jernih, hati bersih dan jernih akan mengantarkan seseorang menjadi mulia dan bermartabat. Sebaliknya, rezeki yang diperoleh dengan cara-cara yang curang dan culas akan mengantarkan pada kekotoran pikiran dan kekeruhan hati.

Kedua, sifat qonaah atau dalam bahasa jawa nrima. Sikap ini juga penting untuk dimiliki seseorang setelah mendapatkan rezeki yang halal karena tanpa sifat nrima ini, seseorang tidak akan pernah merasa puas dengan rezeki yang banyak sekalipun. Jika tidak memiliki sifat qanaah, seseorang akan cenderung ngersulo ketika dihadapkan pada suatu cobaan hidup.

Cobaan hidup bukan hanya ketika seseorang dalam kondisi sulit dan terhimpit, tetapi juga dalam kondisi lapang dan berjaya. Ketika kita tidak punya sikap nrima dalam posisi terhimpit, bisa jadi seseorang akan menghalalkan segala cara untuk mengatasi kondisi tersebut tanpa peduli apapun semuanya bisa diterabas, entah itu etika, norma, agama, kesopanan bahkan hak-hak orang lain akan dengan mudah diterjang tanpa merasa bersalah. Sama juga, dalam kondisi lapang, jika tidak memiliki sikap nrima, seseorang akan tetap merasa miskin dan kurang. Sifat rakus akan menggerogoti hatinya. Kasus-kasus konglomerat, pajabat tinggi, dan orang-orang berjaya yang masih melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme adalah dampak dari raibnya sikap nrima dalam hati. Disinilah sikap nrima ini penting untuk ditanamkan dalam hati kita.

Ketiga, mendapatkan pertolongan dari Tuhan untuk melakukan ketaatan-ketaatan dan kebaikan yang pada akhirnya akan mengantarkan seseorang kepada ridha Allah Swt. Manusia secara kodrati memiliki dua potensi, yakni potensi melakukan keburukan dan kebaikan (Q.S al-Syam: 8). Dua potensi ini akan berkembang sejalan dengan sejarah kehidupan manusia sejak lahir. Keduanya berkembang karena adanya kontak manusia dengan keluarga, lingkungan, masyarakat, pendidikan, teman bergaul dan buku-buku bacaan yang sering dibaca. Jadi, untuk menjadi pribadi yang memiliki kecenderungan yang besar kepada kebaikan, seseorang memang harus mengusahakannya dengan banyak melakukan kontak dengan lingkungan, keluarga, teman, lingkungan dan buku bacaan yang baik dan berkualitas.

Yang menarik dari penyataan Al-Qurthubi adalah kebaikan-kebaikan yang diusahakan manusia itu seharusnya kebaikan yang akan mendatangkan ridha Allah Swt. Jadi kebaikan yang diridhai Tuhan itu adalah kebaikan yang dilaksanakan dengan cara yang baik dan benar. Kebaikan yang dikehendaki Tuhan tidak akan pernah menyakiti dan mendzalimi hambanya, sebab mustahil Tuhan itu dzalim (Q.S Fushshilat: 46).

Alkisah, Gusmus pernah bercerita—dalam sebuah sarasehan budaya—bahwa salah satu sahabatnya mendatanginya setelah melaksanakan salah satu rukun haji. Wajahnya berseri-seri menandakan bahwa ia bahagia karena berhasil mencium hajar Aswad, di hadapan Gusmus, ia berkisah,

“Saya senang sekali Gus, saya berhasil mencium hajar aswad…. mencium hajar aswad itu gampang Gus!”

tanpa diminta oleh Gusmus, orang ini langsung menceritakan bagaimana ia bisa mencium hajar Aswad,

“Jadi begini Gus, sejak di rukun Yamani, saya tempelkan dada saya (ke ka’bah), setelah sampai di rukun hajar aswad, hajar aswad ada di hadapan mata, baru mau saya cium, ada orang Turki mau nyelonong, langsung saya senggol, langsung jatoh dia, ada orang India mau ikut-ikutan saya sikat langsung terkapar dia. Akhirnya, Alhamdulillah Gus, Hajar Aswad itu memang wangi”

“ …. Lho, sampean itu kok lucu. Lah mau mencari ridha Allah, hambaNya kok sampean sikuti? Lagi pula mencium hajar aswad itu paling duwur hukumnya sunnah, sedangkan nyikut orang itu hukumnya haram!” begitu kira-kira nasehat Gusmus kepada sahabatnya yang merasa senang dengan “kebaikan mencium hajar aswad” tetapi di waktu bersamaan menyakiti saudaranya sendiri.

Kisah ini menunjukkakn kepada kita bahwa kebaikan dan kebahagiaan tidak boleh dicapai dengan melanggar batasan hak orang lain. Kebahagiaan di atas penderitaan orang lain adalah salah satu bentuk dari kadzaliman. Akhirnya, mari berbagia tanpa mencederai kebahagiaan orang lain! Wallahu A’lam. 

 

 

*Penulis adalah Dosen al-Quran dan Tafsir di IIQ An-Nur Yogyakarta dan IAIN Surakarta