Sunnah Nabi yang Dianggap Njelimet dan Pelik

Beberapa kali, saya membaca tulisan-tulisan dan mendengar pembicaraan orang yang mengkritik saudara-saudara kita yang “berbeda” dalam memaknai sunnah nabi.

Di antaranya adalah, nyinyir terhadap cara berpakaian gamis, berjenggot, celana cingkrang, dan yang lebih konyol makan dengan tiga jari, padahal yang dimakan adalah soto, bukan kurma.

Sunnah-sunnah Nabi tersebut dianggap sebagai hal yang norak, tidak tahu konteks, dan asbabul wurud dari sebuah hadis.

Apakah benar demikian?

Saya mencoba memberikan alternatif paradigma, dalam hal ini agar kita ndak tergesa-gesa menilai, yaitu semangat mencintai, ya mencintai Nabi apapun yang pernah dilakukan dan dikatakannya. Melalui cara pandang seperti ini, kita tidak akan merasa paling hebat sendiri, bahkan menganggap yang paling tahu tentang hadis Nabi.

Cobalah kita menilik para sahabat Nabi yang dipastikan sama Nabi sebagai sebaik-baik generasi. Kenapa sebaik-baik generasi?

Sederhana saja, sebab mereka ini adalah orang-orang yang mempertaruhkan harta, jiwa dan raganya demi menjadi pengikutnya. Saya terkadang masih membayangkan jika saya hidup di zaman Nabi, dengan melihat kualitas keimanan saya hari ini, pasti saya menjadi pengikut Abu Jahal dan kawan-kawan.

Alhamdulillahnya, saya lahir di Indonesia, simbah dan orang tua saya Islam, dan fanatik NU pula. Jadilah saya auto-Muslim yang NU.

Kembali ke topik. Beberapa sahabat Nabi mengikuti sunnah nabi terkesan konyol, misalnya Sayyidina Umar. Ketika di hadapan batu hajar aswad, ia sempat berbicara agak kasar;

“Hai, batu hitam. Kamu ini tidak lebih hanyalah sebuah batu, jika Nabi dulu tidak menciummu niscaya saya tak sudi menciummu.” Akhirnya ia luluh juga dan mencium hajar aswad.

Suatu ketika Sayyidina Umar juga tiba-tiba duduk di bawah pohon tanpa alasan, ketika ditanya sahabat yang lain kenapa ia duduk di situ, jawabannya sederhana “Nabi pernah duduk di sini, saya ikuti saja.”

Alasan yang paling tepat dan akurat atas tindakan Sayyidina Umar ini adalah karena saking cintanya sama Nabi, hingga ia menirukan tingkah laku Nabi, sekonyol apapun itu.

Padahal, kalau kita melihat riwayat Sayyidina Umar ini, ia paling berani melakukan bid’ah dengan merombak hukum-hukum fikih  yang berbeda dari nabi, misalnya tarawih berjamaah 20 rakaat, wajib zakat bagi pemilik Kuda, hukum cambuk 80 kali bagi peminum khamr, dan pembagian ghanimah seperlima. Namun, dalam hal meniru cara hidup Nabi, ia hanya salin-tempel dari Nabi tanpa memerlukan rasionalisasi dan kontekstualisasi.

Anaknya sayyidina Umar yang bernama Abdullah bin Umar, sahabat yang paling nyeleneh tentang buka puasa, yakni berbuka puasa dengan senggama sama istrinya. Abdullah bin Umar ini pernah suatu ketika tiba-tiba menuangkan air di sebuah tempat, ketika ditanya alasannya ia hanya menjawab “Nabi pernah menuangkan air di sini, jadi saya ikut aja.” Kenapa? Tidak lain adalah saking cintanya kepada Nabi Muhammad.

Sahabat yang lain adalah Anas bin Malik, sahabat miskin yang suka membawa, membersihkan, menata sandal Nabi hingga ia dijuluki shahibu na’laik atau penjaga sandal. Ketika ia dan Nabi memakan suguhan, tiba-tiba Nabi menyingkirkan daging dan memilih waluh/labu kemudian dimakan. Melihat hal itu, Anas bin Malik mengatakan “Sejak saat itu saya menyukai waluh.”

Kenapa? Karena saking cintanya kepada Nabi.

Sahabat yang lain seperti Sayyidina Ali, Abdullah bin Mas’ud, dan Jabir juga demikian, tiba-tiba mereka tertawa, ketika ditanya alasannya mereka hanya menjawab karena Nabi tertawa ketika mengatakan demikian. Meskipun di ujung riwayat mereka mengatakan “Saya tidak tahu apa yang membuat Nabi tertawa”

Sahabat-sahabat di atas cukup kiranya sebagai bukti bahwa, meniru Nabi itu tidak perlu memikirkan kontekstualisasi dan alasan. Oleh karenanya, Sayyid Maliki pernah mengatakan di salah satu bukunya “salah satu tanda mencintai Nabi adalah mencintai apa yang dicintai oleh Nabi.”

Jadi, jika diruntut, Nabi mencintai Sahabat, sahabat melakukan sesuatu dari Nabi, jadi kita juga boleh –untuk tidak mengatakan wajib – mengikuti para sahabat.

Dari beberapa riwayat di atas, saya sering kali merasa eman-eman kepada orang yang nyinyir terhadap teknis hidup Nabi Muhammad, sesederhana memakai gamis, surban, makan cuka, makan pakai tiga jari, siwak, dan remeh-temeh lainnya. Bahkan, ada yang sampai mengatakan “Kalau Nabi pakai gamis, Abu Jahal juga pakai gamis kok.”

Iya memang, gamis itu produk budaya Arab dan sekitarnya, tapi perbedaannya adalah niat orang yang memakainya, jika niatnya memang ikut sunnah rasul, kenapa harus nyinyir?. Bukankah hadis yang paling mutawatir adalah “Segala sesuatu tergantung pada niat.” (?)

Guru saya, Gus Rumaizijat pernah dawuh “Kita ndak boleh benci (alergi) Arab, karena Nabi itu di Arab.” Dari dawuh tersebut saya menyimpulkan bahwa Arab menjadi mulia itu bukan karena bangsa dan tanahnya, tapi karena Nabi Muhammadnya, begitu pula gamis, siwak, makan tiga jari dan jilat-jilat setelah makan, bukan tindakannya yang kita perhatikan, tapi karena Nabi melakukan hal tersebut, otomatis tindakan tersebut jadi mulia.

Di kelas, saya sering bilang ke teman-teman kalau ada orang yang mengikuti sunnah Rasul, apapun bentuknya, sekecil apapun dan seremeh bahkan sekonyol apapun, jangan diketawain. Pokoknya jangan. Bahaya(!)

Lha wong, kalau ada yang suka artis, misalkan Via Vallen aja tiap hari muter lagunya kok, wallpaper di hp dan laptop juga masang fotonya, kaosnya juga, bahkan membela ketika ia nyanyi lagu denassalam dengan gratul-gratul. Tanpa butuh rasionalisasi dan kontekstualisasi, Lah terus kenapa ngikutin sunnah Nabi kaya pakai gamis aja butuh alasan yang njlimet(?).

Sebenarnya, yang njelimet dan pelik itu Sunnah nabi atau pikiran kita sendiri sih?.

Penulis: Qowim Musthofa
Dosen prodi Ilmu Hadis IIQ An Nur