Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal

Salah satu yang menjadi sorotan para pemerhati pendidikan pada dekade ini adalah pendidikan karakter. Barangkali hal ini terjadi disebabkan permasalahan yang tak kunjung selesai, yaitu tetap maraknya kekerasan di sekolah, baik antar senior dan junior, atau tawuran antarsiswa, dan bahkan ironisnya kekerasan antar guru dan siswa.

Di sisi lain, fenomena kebobrokan moral bangsa juga menjadi hal penting yang harus dioptimalkan penyelesaiannya. Seyogianya harapan ini diletakkan di atas pundak generasi muda. Namun, ibarat kata Pepatah, “Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.” Kemerosotan moral malah semakin terpuruk, seolah telah mencapai titik nol. Apalagi ditambah dengan terjadinya salah satu peristiwa paling mengenaskan di dunia pendidikan, yaitu meninggalnya seorang guru Budi oleh tangan siswanya sendiri.

Salah satu yang harus disadari adalah, bahwa pola dan tingkah laku setiap individu maupun generasi tertentu selalu berbanding lurus dengan kemajuan zaman di masa generasi tersebut hidup. Maka tidak salah jika ada ungkapan yang menyebutkan bahwa setiap anak atau generasi adalah anak zamannya. Artinya, bahwa setiap generasi yang muncul pasti akan dibenturkan dan dihadapkan pada masalah-masalah sosial yang dinamis serta selalu akan berkembang.

Dengan demikian, setiap generasi harus dilatih untuk mampu menghadapi persoalan yang muncul, sehingga tidak tenggelam dan bahkan larut dalam perkembangan tersebut dengan tanpa perisai atau benteng yang kuat.

Namun demikian, perkembangan zaman atau globalisasi yang kian tak terbendung, tidak seharusnya menjadi alat legitimasi untuk menyerahkan segala bentuk tanggung jawab sekaligus menyalahkan kebobrokan moral generasi sekarang. Ada istilah yang cukup menarik: “Orang terdahulu telah menanam pohon untuk kita konsumsi sekarang, selanjutnya kita menanam sekarang untuk dikonsumsi oleh generasi yang akan datang.” Dalam hal ini, tentu yang harus dikikis dan dihilangkan adalah sifat ego yang selalu mengesampingkan kepentingan orang lain.

Dalam pada itu, Nenek Moyang kita telah mewasiatkan banyak kearifan lokal atau local wisdom, namun ternyata sudah mulai diabaikan oleh generasi-generasi berikutnya. Intinya, bahwa nilai-nilai local wisdom sudah mulai pudar atau bahkan disalah-artikan. Dulu, sangat sering terdengar di telinga, istilah Gotong Royong dalam menyelesaikan masalah, namun sekarang digunakan “Gotong Royong” untuk korupsi yang semakin menambah masalah. Beberapa jenis permainan lokal anak semakin dianggap kuno dan terpinggirkan oleh segala bentuk permainan pragmatis.

Injit-injit Semut, Cublak-Cublak Suweng, Bentengan, Petak Umpet,  dan lain-lain yang menanamkan ikatan emosional dan keakraban, dianggap tak lagi mampu menghilangkan kejumutan dan kejenuhan oleh datangnya PS dan Game Online yang sebenarnya hanya menekankan persaingan dan hanya mampu dilakukan oleh tidak lebih dari dua orang.

Tembang-tembang yang penuh nilai nasehat dan filosofi tersebut sudah tak dapat lagi didengar kecuali hanya di acara-acara adat, atau acara khusus lainnya, hanya karena Anak Baru Gede (ABG) menganggap tembang modern dan gaul adalah tembang yang penuh dengan lirik cinta dan penyanjungan yang berlebihan yang notabene tidak sesuai dengan umur mereka. Hal ini tentunya bisa dilihat dengan munculnya lagu-lagu dewasa yang ternyata banyak dinyanyikan oleh anak-anak, bahkan menjadi ajang sebagai pembuktian atas keberhasilan anak yang masih di usia bermain.

Ada hal yang luput dari nilai pendidikan sekarang ini, yaitu rekonstruksi sekaligus revitalisasi nilai-nilai Kearifan Lokal yang sarat makna dan pesan mendalam. Jika hal ini bisa dimaksimalkan, tidak mustahim akan mampu membentuk karakter anak bangsa Lokal yang berwawasan Internasional.

Saat ini, bayak orangtua yang lebih bangga jika anaknya mengeyam pendidikan di sekolah bertaraf Internasional. Padahal, bukankah Indonesia adalah bagian dari dunia Internasional itu sendiri? Bukankah dengan mengunggulkan Kearifan Lokal di mata Internasional jauh lebih hebat dibandingkan membawa nama Internasional yang hanya diunggulkan di mata Lokal? Oleh sebab itu, harus ada sinergi antara orang tua, guru, masyarakat sekaligus pemerintah untuk kembali menghidupkan Kearifan Lokal Indonesia di setiap daerah masing-masing demi terwujudnya generasi berkarakter yang berwawasan luas. Mudah-mudahan.

*Dosen Fakultas Ushuludin IIQ An-Nur Yogyakarta