Mengenal Teologi Islam Sejak dari Bahasa

Serial diskusi ketuhanan dari dogma menuju pembebasan (1)

Oleh : Muh Subhan Ashari

Menyebarnya istilah teologi di kalangan umat Islam

Secara bahasa, kata teologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yakni theos dan logos. Theos dalam bahasa Yunani berarti Tuhan sedangkan logos berarti ilmu, wacana atau kata. Dengan demikian teologi bisa kita maknai sebagai ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan ketuhanan. Adapun pendeta Drewes dan Julianus Mojau mengartikan teologi sebagai wacana ilmiah tentang ketuhanan.

Istilah teologi sangat populer di kalangan umat Kristen, hanya saja istilah ini sebenarnya telah lama dipakai oleh bangsa Yunani kuno jauh sebelum orang-orang Kristen menggunakan kembali istilah tersebut. Pada mulanya orang Kristen menggunakan istilah teologi untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan saja, tetapi istilah ini kemudian berkembang lebih luas lagi dan dipakai untuk membahas seluruh ajaran dan praktik agama Kristen.

Di kalangan umat Islam, istilah teologi tidak begitu populer, hal itu karena umat Islam mempunyai istilah sendiri dalam hal ilmu ketuhanan yaitu ilmu kalam. Selain nama ilmu kalam, umat Islam juga mengenal istilah-istilah lain yang bermakna sama dengan istilah tersebut, seperti ilmu tauhîd, ilmu ushûluddîn, ilmu aqâid/akidah, ilmu nadzr wa istidlâh, ilmu fikih akbâr dan sebagainya.

Di Indonesia sendiri umat Islam mulai mengenal istilah teologi setelah Harun Nasution menulis buku tentang ketuhanan yang berjudul “Teologi Islam”. Harun Nasution adalah seorang cendikiawan muslim Indonesia alumni Timur dan Barat. Ia mendapat gelar sarjananya dari Al-Azhar Cairo, sedangkan gelar doktornya ia dapatkan dari Universitas Mc Gill Kanada. Bisa dikatakan istilah teologi masuk ke dunia Islam karena dibawa oleh sarjana-sarjana muslim yang belajar dari Barat atau dibawa langsung oleh sarjana-sarjana Barat yang datang ke Timur (orientalis).

Harun Nasution mengatakan dalam bukunya bahwa teologi Islam adalah “ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama, sebagaimana manusia ingin menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam. Ilmu ini sangat penting dipelajari oleh setiap orang, karena akan memberi mereka keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diombang-ambing oleh peredaran zaman”.

Saat itu Harun Nasution melihat bahwa teologi Islam yang diajarkan di Indonesia pada umumnya adalah teologi yang berbentuk ilmu tauhid yang kurang mendalam dalam pembahasannya dan kurang bersifat filosofis. Selain itu, teologi yang diajarkan di Indonesia umumnnya hanya teologi menurut aliran Asy’ariyyah, sehingga timbullah kesan di kalangan sementara umat Islam Indonesia, bahwa inilah satu-satunya teologi yang ada dalam Islam. Maka dari itu salah satu tujuan Harun Nasution dalam menulis buku “Teologi Islam” adalah untuk memperkenalkan aliran-aliran yang berlainan kepada umat Islam agar mereka mempunyai pemahaman yang kuat dan memiliki pemikiran yang terbuka.

Harun Nasution bukanlah orang Indonesia pertama kali yang menulis buku tentang teologi Islam. Berdasarkan pengamatan penulis orang Indonesia yang pertama kali menulis buku teologi Islam adalah Imam Nawawi al-Bantani. Seperti namanya, ia lahir di Banten tahun 1815 M dan wafat di Makkah tahun 1897M. Ia adalah cendikiawan muslim yang sangat produktif, tercatat paling tidak ia telah menulis 115 buku dari berbagai bidang keilmuan seperti tafsir, hadis, fikih, tasawuf dan ilmu kalam (teologi). Karena kedalaman ilmunya, ia diangkat menjadi imam masjidil haram di Makkah dan mengajar di sana. Imam Nawawi juga merupakan mahaguru para ulama nusantara. Banyak Para Kyai dari Jawa maupun Sumatra sengaja pergi ke Makkah untuk belajar kepada Imam Nawawi.

Dalam bidang teologi (ilmu kalam), paling tidak Imam Nawawi menulis tiga buku yaitu Tîjan al-Durary, Nur al-Dzalâm dan Fath al-Majid. Hampir seluruh kitab karya Nawawi merupakan syarah (penjelas) dari kitab sebelumnya, begitu juga dengan ketiga kitab di atas. Kitab Nur al-Dzalâm merupakan syarah dari kitab ‘Aqidah al-Awâm karya Syaikh Ahmad Marzuqi, kitab Tîjan al-Durary syarah dari kitab Tauhîd karya Ibrahim al-Bajuri, sedangkan kitab Fath al-Majid merupakan syarah dari kitab Dur al-Farid fi ‘Aqaid Ahli Tauhîd karya Syaikh Ahmad bin Abdurrahman al-Nahrawi.

Hampir semua pesantren mengkaji buku-buku imam nawawi, bahkan tidak jarang yang menjadikannya sebagai buku wajib, terutama bagi pesantren tradisional. Jika kita melihat kurikulum di pesantren atau apa yang dinamakan kitab kuning dalam pesantren, maka kita menemukan bahwa kitab-kitab tersebut adalah kitab-kitab karangan Imam Nawawi, atau kitab-kitab yang pernah disyarahi oleh Imam Nawawi atau paling tidak penulisnya punya hubungan dengan Imam Nawawi secara keilmuan. Dengan demikian, penulis bisa mengatakan bahwa kurikulum di pesantren terutama pada masa awal merupakan rekomendasi dari Imam Nawawi.

Semua kitab tauhid atau ilmu kalam yang ditulis Imam Nawawi adalah ilmu tauhid berdasarkan madzhab Asy’ari atau Ahlu Sunnah. Hal ini wajar karena Imam Nawawi sendiri merupakan penganut madzhab Asy’ariyyah dalam bidang akidah, sedangkan dalam bidang fikih ia menganut madzhab Syafi’i. karena kitab-kitab imam Nawawi dikaji di hampir semua pesantren nusantara, maka dengan itu pula, tersebarlah madzhab Asyariyyah dan madzhab fikih Syafi’i di seluruh nusantara sebagaimana yang Imam Nawawi anut.

Terminologi ilmu ketuhanan dalam dunia Islam

Sebagaimana yang telah disinggung di depan, bahwa Islam mempunyai istilah tersendiri dalam ilmu ketuhanan. Istilah yang paling populer di kalangan umat Islam untuk menyebut ilmu yang membahas ketuhanan adalah ilmu kalam, sedangkan para pengkajinya (teolognya) disebut sebagai mutakallimin. Ibnu Khaldun juga menggunakan istilah ini di dalam bukunya “muqaddimah”.

Ada beberapa alasan kenapa teologi dalam Islam disebut dengan ilmu kalam, diantaranya adalah karena salah satu masalah yang paling sering dibahas dalam ilmu tersebut adalah kalam Tuhan atau firman Tuhan. Mu’tazilah dan Asy’ariyah adalah dua sekte yang paling sengit dalam mempertahankan pendapatnya tentang kalam Tuhan.

Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa al-Quran adalah makhluk Allah (cipataan Allah). Dengan demikian al-Quran adalah sesuatu yang terpisah dari dzat Tuhan sebagaiman makhluk-makluk yang lain. Kaum Mu’tazilah berpedoman pada al-Quran surat al-syura ayat 11 bahwa “tidak ada suatupun yang menyerupai Tuhan”, atau istilah populer dalam ilmu kalam adalah “Tuhan berbeda dengan ha-hal yang baru” (mukhâlafatu lil khawâdis). Al-Quran adalah kitab suci yang berbahasa Arab, ia bisa didengar ketika dibaca, tulisannya pun bisa kita lihat, bagaimana sesuatu yang bisa didengar dan dilihat di dunia bisa menjadi bagian dari dzat Tuhan?! Bukankah ada ungkapan yang mengatakan bahwa apapun yang kalian pikirkan tentang dzat Tuhan maka itu bukanlah Tuhan?

Sebaliknya kaum Asy’ari berpendapat bahwa Al-Quran adalah kalam qadîm (firman Allah yang maha dahulu), ia ada bersamaan dengan adanya Tuhan, ia adalah ucapan, dengan demikian ia adalah bagian dari dzat Tuhan. Apa salahnya firman Tuhan diucapkan dan didengar oleh manusia di dunia?! bukankah Allah pernah berbicara kepada Musa dan Musa mendengarnya?! (Lihat Qs. An-Nisa : 164).

Jika ilmu kalam menjadi istilah yang paling populer, maka fikih akbar merupakan istilah yang paling awal munculnya. Abu Hanifah (w. 150H) merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan istilah ini. Saat itu, Abu Hanifah mengklasifikasikan fikih menjadi dua ; yang pertama fikih akbar dan yang kedua fikih (saja). Fikih akbar membahas tentang syari’at keimanan (i’tiqâdy), sedang fikih (saja) membahas tentang hukum-hukum praksis (amaly).

Istilah lain yang tidak kalah populer dengan kedua istilah di atas adalah ilmu tauhid. Disebut dengan ilmu tauhid karena inti ajaran ketuhanan dalam Islam adalah tauhid, yaitu mengesakan Tuhan. Salah satu buku ilmu kalam yang menggunakan istilah tauhid adalah buku karya Maturidi –salah satu tokoh terbesar Ahlu Sunnah- yang berjudul “Kitab al-Tauhîd”.

Ilmu aqâid atau ilmu akidah juga menjadi istilah yang cukup populer di Indonesia. Terutama jika kita belajar di sekolah agama milik pemerintah seperti madrasah, maka selalu ada pelajaran yang namanya akidah. Sesuai namanya akidah berarti keyakinan atau keimanan, maka ilmu akidah berarti ilmu yang membahas tentang keyakinan dan ajaran keimanan kepada Tuhan.

Nama ushuluddin juga sering menjadi pendamping istilah ilmu kalam. Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu ushûl yang berarti dasar, dan al-dîn yang berarti agama, jadi ushuluddin adalah dasar suatu agama atau ilmu yang mempelajari dasar suatu agama. Di dalamaajaran Islam, dasar sebuah agama adalah keimanan, sedangkan cabangnya adalah ibadah (fikih).

Nama lain ilmu kalam yang barangkali agak asing didengar oleh umumnya masyarakat muslim adalah ilmu nadzr wa istidlâl. Nadzr berarti pandangan atau logika, sedangkan istidlâl berarti argumen atau pembuktian. Penyebutan istilah ini sangat berkaitan dengan metodologi dan cara berpikir ilmu kalam yang harus selalu logis dan bisa dibuktikan kebenarannya, baik secara logika, empirik maupun secara teks (nash).

Dilihat dari banyaknya istilah yang muncul dalam teologi Islam, hal ini menunjukkan bahwa umat Islam memberi perhatian yang sangat besar terhadap masalah ketuhanan. Namun disisi lain, hal itu juga menunjukkan bahwa munculnya teologi Islam tampaknya tidak disiapkan secara matang sejak awal. Justru politiklah yang memicu munculnya keilmuan tersebut. Kita bisa mengingat kembali bagaimana perseteruan antara Ali dan Muawiyyah telah melahirkan berbagai macam penganut teologi. Tetapi baru satu abad kemudian istilah teologi Islam, seperti ilmu kalam, fikih akbar dan sebagainya menyusul muncul dan kemudian dikaji secara lebih dalam.