MEMAKNAI PUISI “SELAMAT TAHUN BARU, KAWAN” karya Gus Mus

(Sebuah Telaah Sederhana dalam Perspektif Hermeneutik)

Oleh: Ahmad Shofiyuddin Ichsan, M.A.

Pendahuluan

Tahun 2019 ini memberikan makna tersendiri bagi umat manusia di dunia, apalagi bagi umat Indonesia. Kenapa begitu? Karena di tahun 2019 ini merupakan salah satu tahun di mana kita tidak hanya semakin tua di dalam usia, tetapi juga banyak fenomena yang perlu dipahami bersama. Kejadian demi kejadian yang telah, sedang, dan akan terjadi memiliki pemahaman tersendiri untuk dikaji dan disadari dalam diri kita semua. Maka di sini, akan tepat jika merefleksikan kembali kehidupan kita dalam konteks untuk apa sebenarnya kita hidup dan bagaimana seharusnya? Sudah ada banyak karya sastra (khususnya puisi) dapat ditinjau kembali bagaimana memaknai kehidupan. Tetapi banyak kalangan masih kesulitan dalam memahami setiap kata demi kata pada sastra yang ada selama ini.

Memahami sulitnya masyarakat dalam memahami detail setiap kata dalam puisi, tentu semua telaah-telaah sastra selalu merujuk pada bagaimana seseorang menginterpretasikan sastra tersebut. Secara spesifik, memang di masyarakat tidak memberikan interpretasi secara langsung, tetapi setiap individu yang membaca ataupun yang mendengar karya sastra, khususnya puisi, tentu mereka akan bersangkutan dengan karya sastra yang harus diinterpretasi dan dimaknai. Banyak artikel mengungkapkan bahwa semua kegiatan kajian sastra, pasti melibatkan peran konsep hermeneutik. Dalam hubungannya dengan sastra puisi sendiri, tahap pertama perlu disadari bahwa interpretasi dan pemaknaan tidak diarahkan pada suatu proses yang hanya sampai pada permukaan karya sastra, tetapi juga yang mampu “sampai di kedalaman makna” yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, seorang penafsir seyogiannya harus memiliki wawasan bahasa, sastra, dan budaya yang cukup luas dan mendalam (Muchti, 2016).

Dalam memahami kajian hermeneutik dalam teks puisi, tulisan sederhana ini akan mencoba menguraikan satu puisi karya KH. Musthofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus, yang berjudul “Selamat Tahun Baru, Kawan”. Puisi Gus Mus ini dipilih karena di dalam setiap sajak puisi beliau merupakan hasil ekspresi diri dan kehidupan yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan, religius, dan bahkan nilai-nilai keadilan sosial. Bahkan di dalam puisi “Selamat Tahun Baru, Kawan” ini, Gus Mus mencoba mengekspresikan diri dan beliau masuk di dalam cerminan kehidupan beliau sendiri. Dalam konteks inilah, puisi Gus Mus ini bagi penulis sangat tepat dalam memaknai tahun baru 2019 ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sekilas tentang Hermeneutik

Hermeneutik adalah proses penguraian yang berangkat dari isi dan makna yang terlihat ke arah makna tersembunyi. Objek interpretasi dalam pengertian yang luas, dapat berupa simbol dalam mimpi atau bahkan mitos-mitos dari simbol dalam masyarakat atau sastra (Palmer, 2003). Lebih lanjut Palmer mengungkapkan bahwa akar kata hermeneutik berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermeneuein, yang berarti “menafsirkan”, dan kata benda hermeneia, “interpretasi”. Hermeneutik merupakan pembacaan bolak-balik melalui teks dari awal hingga akhir. Tahap pembacaan ini merupakan interpretasi tahap kedua yang bersifat retroaktif yang melibatkan banyak kode di luar bahasa dan menggabungkannya secara integratif sampai pembaca dapat membongkar secara struktural guna mengungkapkan makna dalam sistem tertinggi, yakni makna keseluruhan teks sebagai sistem tanda.

Maka dari itu, diperlukan langkah-langkah dalam menerapkan pendekatan Hermeneutik dalam memahami teks sastra (khususnya teks puisi). Langkahnya adalah dengan mengkaji makna melalui pembacaan yang berulang-ulang dengan menganalisis secara mendalam tentang makna yang terkandung secara tersirat pada karya sastra itu sendiri. Analisa yang digunakan tentunya dengan menggunakan segenap pengetahuan, pengalaman, dan teori-teori yang dimiliki selama ini.

Puisi “Selamat Tahun Baru, Kawan”: Sebuah Analisa Hermeneutik

Dalam memahami teks puisi karya Gus Mus ini, terlihat penyair (Gus Mus) mencoba mengungkapkan segala perasaannya yang (mungkin) selama ini terpendam. Penyair mencoba memposisikan dirinya sebagai seseorang yang memiliki teman akrab yang sering diajak ngobrol ngalor-ngidul tentang kehidupan. Melihat puisi ini, penyair mencoba berbicara dengan teman di depannya bagaimana dirinya dan temannya memahami makna di balik tahun baru (new year).

Lantas kenapa penyair menggunakan kata “kawan” dalam judul puisinya, karena seorang kawan merupakan representrasi dari seseorang yang dekat dengan kita. Kawan adalah  manusia yang memahami siapa kita sebenarnya. Kawan merupakan orang yang sangat peduli dengan kita seutuhnya. Maka kata “kawan” dalam judul tersebut menginterpretasikan bahwa sang penyair ingin lebih dekat dengan para pembaca dan pendengar melalui puisinya tersebut, sehingga kedekatan itu diharapkan antara penyair dan penikmat syairnya sama-sama memahami isi ungkapan jeritan kata demi kata dalam syairnya.

Kawan, sudah tahun baru lagi

Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri

Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-Nya

Permulaan ungkapan yang sangat menarik, karena terdapat frasa-frasa yang memiliki kedalaman makna di belakangnya. Penyair menggunakan kata “sudah tahun baru lagi”, hal ini mengimplikasikan bahwa hari demi hari terus berganti, bulan dan tahun silih berganti. Lantas ada apa dengan pergantian jam, hari, bulan, sampai tahun di diri seseorang? Setelah itu muncul frasa selanjutnya, yang memiliki makna dengan berganti waktu, kapan kita memperbaiki diri. Kapan kita memahami bahwa manusia itu memiliki Tuhan. Kapan kita menyadari bahwa semua manusia itu pada dasarnya sangat lemah dan perlu tumpuan hidup yang abadi dari yang Maha Kuat, yaitu Tuhan.

Tidak hanya itu, di dalam frasa terakhir ini penyair mencoba mengungkapkan, sampai kapan kita terus berbuat kebatilan di muka bumi ini, apakah kita tidak mengimani bahwa kehidupan saat ini masih panjang dan ada kehidupan baru yang lebih kekal dan lebih segalanya. Apapun kehidupan manusia pada saatnya akan dimintai pertanggungjawaban  di kehidupan berikutnya, di hari penghisaban.

 

Kawan siapakah kita ini sebenarnya?

Musliminkah, mukminin, muttaqin,

kholifah Allah, umat Muhammad kah kita?

Khoiro ummatin kah kita?

 

Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi

Hanya budak perut dan kelamin

Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan

Lebih pipih dari kain rok perempuan

Betapapun tersiksa, kita khusyuk di depan masa

Dan tiba tiba buas dan binal justru di saat sendiri bersama-Nya

Syahadat kita rasanya seperti perut bedug, atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.

Kosong tak berdaya.

 

Ungkapan puisi Gus Mus ini memperlihatkan kepada para pendengar dan pembaca bahwa siapakah kita sebenarnya. Apakah kita manusia yang mengerti betul apa itu manusia atau sebaliknya. Jika kita tidak memahami bahwa kita adalah manusia, maka derajat kita sebagai manusia sangatlah rendah. Bahkan secara tersirat, banyak manusia di luar sana hanya menggunakan diri sebagai manusia untuk dikuasai penuh oleh isi perut dan hasrat birahi semata. Banyak di luar sana, hanya sibuk mengurusi kehidupan duniawi yang serba nafsu materialistik, tapi melupakan ketenangan batin. Padahal sebenarnya kebahagiaan duniawi adalah ketenangan batin itu sendiri.

Penyair mengajak semua pendengar dan pembaca untuk melihat ke diri sendiri, mengevaluasi diri apakah kita bagian manusia yang ke arah kanan (kebaikan) atau ke arah kiri (keburukan). Manusia dianugerahi Tuhan dengan kekuatan fisik dan pikiran yang luar biasa, apakah dengan kekuatan tersebut manusia menggunakannya tidak untuk perbaikan diri atau justru untuk perusak dirinya sendiri.

Munafik dalam ucapan, sikap, dan hati harus terus belajar dihindari karena di dalammnya justru dapat membebani diri sendiri yang pada ujungnya memberikan kemadharatan besar bagi individual dan sosial. Dalam frasa puisi itu terlihat, bagaimana penyair menginginkan kita semua untuk berpikir ulang untuk menjadi manusia apa adanya, tanpa ada polesan ‘make up’ yang menutupi diri dalam realitas.

 

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu

Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.

Doa kita sesudahnya justru lebih serius, kita memohon hidup enak di dunia dan bahagia di surga.

 

Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat

 

Ketika datang lapar atau haus,

Kita manggut manggut, ooh…beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara-saudara kita yang melarat.

 

Zakat kita jauh lebih dari berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilannya untuk kupon undian yang sia-sia

Kalaupun terkeluarkan, harapan pun tanpa ukuran upaya-upaya Tuhan menggantinya lipat ganda

 

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar.

Lalu pulang membawa label suci asli made in saudi, “HAJI”

 

Kawan, lalu bagaimana, bila mana dan berapa lama kita bersama-Nya

Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,

mensiasati dunia sebagai khalifahnya.

 

Lebih lanjut dengan frasa-frasa berikutnya, penyair dengan berani mengungkapkan isi hati dengan terus menggunakan luapan-luapan kata-kata yang menyadarkan kita semua tentang apa yang selama ini kita lakukan. Apakah sudah benar kebaikan-kebaikan yang selama ini dilakukan sesuai dengan koridor manusia beriman atau tidak. Ritual sholat semestinya untuk perbaikan dan muhasabah diri, tetapi justru banyak digunakan sebagai aktivitas harian yang tidak memiliki implikasi apapun terhadap kehidupan. Bagitu pula puasa, zakat dan aktivitas keagamaan lainnya. Penyair dengan ‘geram’ mempertanyakan sudah benarkah semua aktivitas kehidupan kita selama ini. Sudah dapat nilai “A” kah perbuatan kita di mata Tuhan, atau jangan-jangan kita hanya sibuk menutupi nilai “E” tanpa berbuat apa-apa untuk memperbaikinya.

 

Kawan, tak terasa kita memang semakin pintar,

Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita

Paling tidak kita semakin pintar berdalih

Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan

Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran

Melacur dan menipu demi keselamatan

Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan

Memukul dan mencaci demi pendidikan

Berbuat semaunya demi kemerdekaan

Tidak berbuat apa apa demi ketenteraman

Membiarkan kemungkaran demi kedamaian

Pendek kata, demi semua yang baik halallah semua sampai pun yang paling tidak baik.

 

Secara eksplisit, frasa ini mengungkapkan makna di belakang simbol kata demi kata. Dalam frasa ini, menurut penulis, banyak manusia selama ini hiprokit (munafik) dalam menjalankan kehidupan. Manusia memiliki akal untuk mencerdaskan diri sendiri, tetapi akal itu tidak digunakan untuk hal-hal positif. Manusia memiliki kekuatan menjadi khalifah (pemimpin), tetapi justru dengan kekuatan tersebut, manusia terus merusak dan mengeksploitasi apapun untuk kepentingan pribadi-kelompok duniawinya.

Manusia memiliki pikiran untuk berpikir, tetapi realitasnya digunakan untuk membiarkan keburukan/ kebatilan, dan bahkan ia sendiri menggunakan pikirannya untuk melakukan keburukan itu sendiri. Bahkan dengan berbagai macam keburukan itu, manusia sangat pandai menutupinya. Seakan-akan hal itu sebagai sesuatu yang biasa dan cepat tertutupi dengan kebaikan-kebaikan lain. Kemunafikan inilah, bagi penyair, harus diungkap di dalam kata-kata puisinya. Karena hal tersebut sebagai dasar untuk menyadarkan kita sebagai manusia untuk menghindari nilai ketidakmanusiaannya itu.

 

Lalu bagaimana para cendekiawan, seniman, mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah Nabi

Jangan ganggu mereka

Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya

Para seniman sedang merenungkan apa saja

Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana

Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa

Lalu bagaimana para cendekiawan dan seniman, para mubaligh dan kiai penyambung lidah Nabi?

Jangan ganggu mereka

Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya

Para seniman sedang merenungkan apa saja

Para mubaligh sedang sibuk berteriak ke mana-mana

Para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa

Para pemimpin sedang mengatur semuanya

Biarkan mereka di atas sana

Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

 

Kawan, selamat tahun baru

Belum juga tiba kah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri

 

Frasa terakhir ini sebagai frasa kesimpulan, yakni tidak hanya manusia biasa yang harus menyadari tentang kehidupan ini, tetapi semua manusia yang memiliki gelar dan jabatan (dari hasil konstruksi sosialnya) juga perlu menyadari. Penyair sangat menyadari bahwa manusia memang terbagi menjadi dua golongan, manusia biasa dan manusia ‘di atas biasa’ (manusia yang bertitel). Penyair mencoba melihat kedua manusia tersebut secara bersamaan demi perbaikan manusia seutuhnya. Manusia bertitel memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan kekuatannya, apapun yang dilakukan dan diucapkan mampu dianut oleh pengikutnya. Manusia bertitel tidak hanya bergelar akademik, tetapi juga gelar hasil kontruksi sosial masyarakat, bisa saja gelar kiai, ustadz, dan seterusnya. Manusia bertitel ini sangat berbahaya jika kekuatan titel dan jabatannya itu digunakan untuk merusak tatanan kehidupan, bukan untuk mengayomi demi kemanusiaan.

Frasa akhir ini merupakan frasa kesimpulan dari makna puisi ini sendiri. Penyair menginginkan bahwa kita semua adalah manusia. Manusia sama di sisi Tuhannya. Yang membedakan manusia dengan manusia lainnya, adalah bagaimana manusia itu mengerti hakikat manusia. Yaitu memanusiakan manusia dan terus menyadari bahwa manusia adalah makhluk lemah yang tidak punya kekuatan selain diberikan kekuatan oleh Tuhan, sebagai Sang Maha Segalanya. Karena kehidupan manusia merupakan proses yang sangat panjang untuk terus memperbaiki diri dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan dalam satu tujuan, pengabdian diri kepada-Nya secara totalitas.