Mahasiswa Baru IIQ An Nur, Usai Ikuti PBAK Hari Ketiga

Panitia Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) CENDEQIA 2021 IIQ An Nur Yogyakarta telah usai melaksanakan PBAK hari ketiga pada Hari Rabu (29/9/2021). Seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan PBAK diawali dengan apel pagi yang diikuti oleh seluruh peserta, baik secara daring maupun luring.

Meskipun telah berlangsung selama tiga hari, namun peserta PBAK masih tampak antusias dalam mengikuti kegiatan pengenalan kampus ini. Begitu pula dengan para panitia yang semangat dalam memaksimalkan pelaksanakan kegiatan dan tentunya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Setelah apel, agenda selanjutnya yakni PBAK khusus Fakultas, baik Fakultas Tarbiyah, Ushuluddin, maupun Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI). Adapun, di setiap fakultas hadir para Dekan dan Kaprodi masing-masing untuk menyampaikan materi terkait profil Fakultas dan Prodi. Harapan panitia, dengan diadakannya PBAK khusus fakultas ini, mahasiswa baru bisa mengenal lebih dekat Fakultas mereka masing-masing dan mereka pun akan lebih yakin dengan pilihan program studi yang mereka pilih. Selain itu, hadir pula para pengurus Dewan Mahasiswa (DEMA) masing-masing fakultas yang turut memperkenalkan struktur kepengurusan tahun 2021/2022 kepada para mahasiwa baru.

Dwi Harmoyo, MEI (Kaprodi Perbankan Syariah)

Usai pelaksanaan PBAK Fakultas, kemudian dilanjutkan penyampaian materi keorganisasian dan kepesantrenan oleh Arif Nuh Safri, M.Hum. Beliau menyampaikan bahwa mahasiswa IIQ An Nur Yogyakarta harus bisa menjadi penggerak di manapun mereka berada. Hal ini karena pada dasarnya, mahasiswa IIQ An Nur Yogyakarta adalah mahasiswa sekaligus santri (mahasantri) yang harus bisa memberi perubahan di lingkungan sekitar mereka.

Menurut beliau, ada 3 hal besar yang harus menjadi fokus para mahasantri dalam melakukan perubahan, di antaranya terkait dengan perundungan (bullying), intoleransi, dan kekerasan seksual.

Arif Nuh Safri, M.Hum (Kaprodi Ilmu Hadis)

“… baik yang aktif dalam organisasi maupun yang aktif di akademik, harus bisa memberantas tiga dosa besar tersebut” ungkapnya. Sehingga harapan ke depannya, mahasantri bisa menjadi agen perubahan dan penggerak sosial di lingkungan mereka masing-masing.

Pewarta: Muthiatul Chasanah
Penulis: Muthiatul Chasanah
Penyunting: Qowim Musthofa