Kamis, 19/ 09, rombongan rihlah ilmiah IIQ An Nur Yogyakarta melanjutkan perjalanannya menuju ke Pusat Study Al Qur ‘an di pondok cabe, Tangerang Selatan. selepasnya belajar di Pusat Study Hadis Bogor selama dua hari. Tujuan yang ketiga ini merupakan tujuan study yang terakhir, sebelum kembali ke Yogyakarta. Adapun acaranya adalah kajian ilmiah seputar ilmu al Qur’an bersama beberapa para pakar pilihan yang  bertempat di aula bawa masjids Bait Alquran

Pemandu acara rihlah imiah ini dari pihak PSQ dan acara dimulai pukul 08.30. Sebelum inti kajian, disampaikan sambutan dari pihak kampus IIQ An Nur Yogyakarta yaitu oleh K.H. Ikhsanudin, MSI. Ucapnya bahwa tujuan kedatangan rombongan yang pertama adalah untuk silaturohim dan selanjutnya untuk belajar seputar ilmu al Qur’an. Beliau tidak menyampaikan banyak hal, dikarenakan ada jadwal yang mengharuskan untuk langsung kembali ke Jogja. Setelah sambutan, langsung dimulai kajian ilmiahnya yaitu makna lughowiyah dan ushuliyah

Dr. Syarif Hidayatullah pada sekmen pertama beliau menyampaikan bahwa memahami Qur’an tentu harus memahami konteks kebahasaan. “persoalan Alquran harus kita pahami dengan persoalan bahasa, karena dengan mengetahui persoalan bahasa maka kita akan mengkaji persoalan makna baik secara simbol atau secara verbal. Akan tetapi dalam memahami bahasa sejatinya akan ditekankan pada persoalan makna bukan lagi soal mabna, dari sini kita akan kuat memahami bagaimana redaksi ayat itu dan maksud yang terkandung di. Karena sesungguhnya mempelajari bahasa Alquran akan memahami segitiga wacananya (arti, makna, kemudian maksud)”. Ujar Dr. Syarif pada kajian pertama persoalan bahasa dalam Alquran.

Sekmen selanjutnya sampaikan oleh Dr. Ahmad Husnul Hakim, tentang persoalan kaidah tafsir dalam memahami Alquran. “dalam memahami Alquran kita perlu memahami kaidah penafsiran, ini sama seperti kita ingin membaca bahasa Arab yang perlu akan kaidah ilmu alat yaitu nahwu dan sorof. Memahami Alquran sama seperti itu, perlu adanya kaidah seperi ‘am dan khos, makiyah madaniyah, asbabun nuzul dan lain sebagainya. Ini berkaitan tentang kaidah nantinya bisa mengkrucut dengan metode dan pendekatan seperti semantik, semiotik, dan hermeneurik”. Ucap Dr. Husnul pada sekmen kedua ini membahas tuntas tentang kaidah penafsiran. Setelah mempelajari tentang kaidah, mahasiswa IIQ dibentuk menjadi empat kelompok putra dan putri yang kemudian diberi tugas untuk mencoba menafsirkan satu ayat Alquran yang masing-masing kelompok berbeda dengan menggunkan kaidah Alquran kemudian di berikan hadiah untuk empat hasil terbaik.

Terkahir rihlah ilmiah ini disampaikan oleh KH. Arifin, MA sebagai pengasuh Pondok pesantrek Bait Alquran, beliau menyampaikan bagaimana Lughowiyyah lebih tinggi dari pada mabna, beliau banyak menyinggung tentang penggunaan kata-kata yang maknanya sama tapi secara konteks berbeda seperti penggunaan kata qorya dengan madani yang artinya sama-sama desa, namun secara konteks berbeda. Qorya penggunaanya untuk konteks desa yang di laknati, tetepi penggunaan madani untuk konteks desa yang Allah berkati, dan menjabarkan kata-kata lainnya.

Acara ini ditutup dengan penyerahan cendramata baik dari pihak PSQ maupun pihak IIQ dan ucapan terimakasih serta berharap bisa bekerja sama untuk selanjutnya, kemudia diakhiri oleh doa yang dipimpin KH. Arifin sebelum sekmen foto bersama di depan masjid Bait Alquran. Rombongan IIQ ini melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta yang sebelumnya menyempatkan ziarah makam Sunan Gunung Jati cirebon yang di pimpin oleh KH. Maulidi al-Hasani, MA, MH (salah satu dosen IIQ An Nur Yogyakarta). (Jamal dan Qoqom/LPM)