Sukses Mendidik Anak Ala Qur’ani

Mendidik anak bukan perkara yang mudah bagi orang tua, terlebih di zaman milineal ini tantangan jauh semakin besar dan pola pemahaman anak jauh lebih berkembang. Alquran selalu menjawab berbagai problematika yang tersaji di setiap masanya. Dewasa ini berbagai budaya sudah bercampur dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dicerna oleh anak yang dapat diakses dengan mudah melalui berbagai macam media, lalu mengapa harus Qurani?

Alquran menjadi sumber nilai atau informasi, serta motivasi di dalam mengahadapi satu fenomena di sekitar kita. Alquran yang memiliki jargon Shohih li kulli zaman wal makan artinya dapat dijadikan pedoman di setiap saat dan di manapun ia berada. Umat muslim tidak akan bisa terlepas dari Alqurannya, karena ini merupakan salah satu pondasi keimanan yang wajib ditanamkan dalam hati dan diimplementasikan di dalam kehidupannya.

Kontrak logis terhadap pandangan ontologis mengenai anak ini sudah mulai bergeser dari hakikatnya, karena di era saat ini anak cenderung dieksploitasi dengan aset ekonomi. Sebagai contoh, banyak orang tua yang beranggapan bahwa ketika ia memiliki anak maka akan tercermin di benaknya untuk mendorong anaknya agar bisa berkerja dan sukses sehingga bisa keluar dari zona kehidupannya yang sempit. Selain itu, ada juga yang beranggapan bahwa anak merupakan tentara Allah untuk berjuang di jalan Allah ‘Jihad fi sabilillah’ berdasarkan pemahamannya, padahal hakikatnya anak memiliki eksistensi yang jauh dari anggapan sebagaimana yang disebutkan di atas.

Menurut Abdul Mustaqim, (2019:26) beliau menjelaskan bahwa ada lima dasar pandangan Alquran terhadap anak. Pertama, anak sebagai wahbah. Artinya anak dipahami sebagai anugerah pemberian dari Allah SWT. Sebagaimana keturunan yang diberikan oleh Allah terhadap Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’qub merupakan keturunan yang luar biasa sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Anbiya ayat 72.

Kedua, anak sebagai amanah. Artinya, anak merupakan titipan Allah SWT untuk dijaga dan diperlakukan dengan baik. Selain itu, anak juga harus diarahkan dengan baik agar menjadi generasi yang lebih baik. Sebagaimana dengan firman Allah dalam surat al-Anfal ayat 27.  Ketiga, anak sebagai zinah. Artinya anak dapat dipahami sebagai perhiasan yang menyenangkan hati dan menyejukkan mata (Qurrota ‘ayun). Hal ini berdasarkan ayat Alquran surat al-Imran ayat 14.

Keempat, anak sebagai fitnah, Allah berfirman dalam surat at-Taghabun ayat 15 “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Ayat ini mejelaskan jika kita menyia-nyiakan anak yang diberikan kepada kita sebagai amanah atau karunia maka akan menjadi fitnah buat kita.

Kelima, anak kebagai aduww. Artinya, konsep ini menempatkan eksistensi anak sebagai musuh bagi orang tua sebagaimana firman Allah dalam surat at-Taghabun ayat 14. Anak dapat menjadi musuh bagi orang tuanya ketika ia berbuat kerusakan dan memperbanyak maksiat kepada Allah SWT. Bentuk kemaksiatan yang dikerjakan oleh anak akan menjadi bumerang untuk kedua orang tuanya. Baik mendatangkan kesengsaraan orang tua di dunia maupun kemaslahatan di akhirat kelak.

Penjabaran tentang eksistensi anak menurut sudut pandangan Alquran, memberikan pelajaran bagi kita bagaimana kurikulum yang harus dipakai oleh orang tua untuk membentuk eksistensi anak agar menjadi potensi yang berkualitas, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Dari pemaparan di atas, harusnya kita bisa mengarahkan semua kemampuan kita untuk mendidik anak agar ia menjadi sosok yang berkualitas. Hal ini tentu harus dengan tekad dan usaha, serta kesabaran yang berkualitas.

Penjabaran di atas dirasa sangat lengkap untuk membentuk pribadi anak berdasarkan kacamata Qurani. Dengan maksud agar kita dapat paham untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi anak. Terlebih untuk yang belum memiliki anak dapat lebih mempersiapkan diri menghadapi kondisi ini. Karena sejatinya Alquran telah menginformasikan 15 abad lalu tentang cara yang harus dimiliki oleh orang tua untuk menjadikan anak sebagaimana mestinya sesuai dengan hakikat anak. (Muhamad Jamaludin/LPM)

Artikel ini disarikan dari Seminar Parenting dan Bedah Buku Qur’anic Parenting: Kiat Sukses Mendidik Anak Cara Alquran yang disampaikan oleh Dr. H. Abdul Mustaqim, MA. (Penulis Buku dan Pakar Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan Shinta, S.Pd, M.Si., MA. (Pakar Parenting dan Owner Bunda Cinta Parenting Center Yogyakarta). Seminar dilaksanakan di Auditorium IIQ Annur Yogyakarta pada 26 Agustus 2019.