IIQ An Nur Yogyakarta Gelar PBAK Mahasiwa Baru

BANTUL-Senin (24/9), Institut Ilmu al-Qur’an An Nur Yogyakarta mengadakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2018. Kegiatan ini akan berlangsung selama 4 hari, terhitung dari tanggal 24-27 September 2018. Pembukaan PBAK dilaksanakan di halaman kampus IIQ An Nur Yogyakarta. Acara ini Diikuti oleh 169 calon mahasiswa baru dengan penuh semangat. Tema yang diusung kali ini adalah “Menumbuhkan Semangat Kebhinekaan Mahasiswa di Era Digital”.

“Dengan tema ini, kami berharap agar mahasiswa khususnya calon mahasiswa baru mampu merubah paradigma dalam mengenal dunia akademik dan mampu menjadi media solutif di bidang ilmu keagamaan Islam dan bisa dipertanggungjawabkan di hadapan keluarga, agama, nusa. dan bangsa,” papar Andriyansah selaku Ketua Panitia PBAK 2018.

Di hadapan para calon mahasiswa, M. Johan Usman selaku Ketua DEMA IIQ An-Nur Yogyakarta mengajak mereka untuk meningkatkan akhlak diimbangi dengan meningkatkan prestasi akademik.

“Dewasa ini banyak sekali mahasiswa Islam khususnya, yang tampil bagus dhahirnya, kaya argumentasinya, namun mereka miskin akan akhlak, buta akan agama dan tuli dengan kabar yang sebenarnya (al-Qur’an). Ini akan berakibat fatal bagi kelangsungan bangsa Indonesia sebab pemuda-pemudinya lemah dalam segi akidah, lemah dalam cinta terhadap bangsa,” ujarnya.

Dengan masuknya para calon mahasiswa baru di perguruan tinggi yang berbasis al-Quran ini, maka keberuntungan yang besar akan menyertainya. Sehingga keilmuan yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam rangka mempersiapkan para kader penerus bangsa, dalam sambutannya tersebut, Johan mengajak para calon mahasiswa baru dengan disiplin dan penuh tanggungjawab.

“Dengan terealisasinya kegiatan PBAK nantinya menandai perubahan dari status siswa menuju mahasiswa. Perubahan ini harus disadari agar tumbuh dalam setiap diri mahasiswa jiwa bersih, jujur, aktif, progresif, dinamis, idealis, dan agamis, karena mahasiswa sebagai agent of change selalu berada di garda terdepan dalam merubah ketimpangan sosial, ketidakadilan, dan rezim tiranik yang semena-mena dalam memimpin tanpa memikirkan rakyatnya,” tambahnya. (Fitri, Harokati)