WISUDAWAN DAN WISUDAWATI LULUSAN TERBAIK IIQ AN NUR YOGYAKARTA

Sabtu, 15 September 2018, IIQ An Nur Yogyakarta telah mengadakan Wisuda Sarjana ke-10 dan Harlah ke-16. Pada tahun ini, IIQ An Nur Yogyakarta meluluskan sebanyak 54 wisudawan dan wisudawati dari Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin.

Pada acara ini, IIQ An Nur Yogyakarta memberikan apresiasi kepada 16 wisudawan dan wisudawati yang meraih nilai IPK cumlaude. Khusnia Umiyati, S. Pd. terpilih menjadi mahasiswa lulusan terbaik dari Fakultas Tarbiyah yang mendapatkan IPK tertinggi yaitu 3,69. Sedangkan dari Fakultas Ushuluddin, Abdul Wachid Lathif, S. Ag. terpilih menjadi lulusan terbaik tahun ini dengan IPK 3,65.

Abdul Wachid Lathif, S. Ag. mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian yang telah diraih saat ini. Tidak kalah istimewanya, wisudawan ini termasuk salah satu dari tiga khatimin dan khatimat yang mengikuti wisuda kali ini.

“Saya bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Semua kerja keras selama ini alhamdulillah ya membuahkan hasil. Pasalnya saya tidak menyangka kalau saya bisa jadi lulusan terbaik.”

Khusnia mengungkapkan bahwa ia tidak menyangka jika akan terpilih menjadi mahasiswa lulusan terbaik pada tahun ini. “Alhamdulillah, aku bersyukur banget. Sebenarnya semuanya terbaik, hanya saja kebetulan aku. Ya, aku juga nggak tahu,” ujarnya.

Keberhasilan yang diraih oleh Kusnia tidak datang secara tiba-tiba. Keberhasilan ini berawal dari keterpaksaan dalam menyandang status santri sekaligus mahasiswa. Akan tetapi dengan semangat belajar, kesabaran, dan keinginan untuk membahagiakan kedua orang tuanya, segala jerih payahnya selama ini memberikan hasil yang memuaskan.

“Dulu awalnya saya merasa terpaksa kuliah di sini, tetapi akhirnya saya berusaha buat maksimalin. Awalnya saya merasa ada dua kewajiban yang saya rasa tidak mungkin bisa dijalani. Tapi setelah itu, dengan sabar dijalani satu persatu,” tambahnya.

“Ya, ingat dulu semester awal betapa kesulitannya ketika ada tugas kuliah dan ada ngaji juga di pondok, itu benar-benar sesuatu yang Insya Allah tidak ditemui di kampus luar. Jadi Insya Allah di sini terkesan banget dan bisa membentuk pribadi kita  yang baik luar dalam, Insya Allah,” tambah Khusni.

Sedangkan Abdul, salah seorang santri dari Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak mengungkapkan bahwa selama kuliah ia terkendala akan  transportasi. Pada awal masuk kuliah ia belum memiliki sepeda motor, sehingga ia harus meminjam kapada teman-temannya.

Khusnia dan Abdul juga memberikan saran kepada adik-adik mahasiswa agar rajin kuliah serta melaksanakan semua kewajiban dengan baik. Selain itu, penting juga mengatur pikiran dan waktu sebaik mungkin. Sehingga dapat menyeimbangkan kewajiban sebagai santri sekaligus mahasiswa agar mendapatkan hasil yang maksimal karena suatu proses tidak akan menghianati hasil. (Parni, Harokati)