Sekilas tentang Tafsir al-Thabari

oleh: Moch Dimas Maulana

Nama aslinya adalah Abu Ja’far, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Thabary dikenal dengan Ibnu Jarir al-Thabary. Seorang ulama’ besar yang memiliki banyak karya yang masyhur, diantaranya tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. Beliau dilahirkan di kota Amul, Tabaristan, Iran pada tahun 224 H atau 839 masehi dan mulai melakukan perjalanan menuntut ilmu ke luar daerahnya pada umur 12 tahun. Belajar di berbagai daerah di luar Iran namun pada akhirnya menetap di Baghdad hingga wafatnya pada tahun 310 H.

Beliau salah satu ulama’ yang paling masyhur pada zamannya. Pendapat-pendapatnya menjadi rujukan, beliau juga seorang hafizh Qur’an bahkan sangat faham dengan makna-makna yang dikandungnya. Sunnah nabi beliau kuasai, baik yang shahih maupun tidak. Dan yang menjadi kelebihannya, beliau paham betul dengan pendapat-pendapat sahabat, tabi’in dan generasi selanjutnya.

Menurut Abu al-Abbas “Muhammad Ibnu Jarir itu adalah seorang yang faqih”. Selain kitab tafsir Jami’ al Bayan, beberapa karya beliau yang tak kalah masyhurnya ialah: Tarikh al-Umam wa al-Muluk yang menjadi rujukan utama kitab sejarah raja-raja Arab, kitab al-Qiraat, al-Adad wa al-Tanzil, kitab Ikhtilaf al-Ulama’, Tarikh al-Rijal min al-Sahabat wa al-Tabiin, kitab Ahkam Syara’ii al-Islam dan masih banyak lagi yang lainnya yang menunjukkan keluasan ilmunya.

Namun kitab-kitab tersebut tidak terlalu masyhur atau tidak sampai ke kita kecuali kitab Tafsir dan Tarikhnya. Imam al-Suyuti dalam kitab Thabaqat al-Mufassirin  berkata “Beliau (Al-Thabari) awal mulanya seorang pengikut madzhab Syafi’i kemudian membentuk madzhab sendiri dengan pendapat-pendapatnya, dan beliau mempunyai banyak pengikut, dan dalam hal Ushul maupun Furu’ beliau memiliki banyak karya kitab.

Konon, tafsir al-Thabary ini sempat hampir hilang dari peredaran namun dengan izin Allah naskah lengkapnya pada akhirnya ditemukan dalam penguasaan seorang mantan amir Najed yaitu amir Hamud bin amir Abdu al-Rasyid dan kemudian di salin untuk diterbitkan sehingga bisa sampai pada tangan kita sekarang.

Adapun metode penafsiran yang digunakan dalam kitab ini ialah Tahlili, yaitu menafsirkan ayat demi ayat secara mendetil dari al-Fatihah hinggan an-Nas. Sedangkan dari cara penafsirannya, ia termasuk dalam kategori tafsir bi al-Ma’tsur, menafsirkan al-Qur’an dengan Qur’an, atau dengan hadist Rasul, atau keterangan-keterangan dari para sahabat dan juga tabi’in.

Hal ini terlihat sekali di dalam kitab at-Thabari yang menghadirkan banyak riwayat dari hadis maupun atsar para sahabat dan tabi’in dalam menafsirkan sebuah ayat. Sebelum memulai penafsirannya, merupakan ciri khas imam at-Thabary berkata القول فى تفسير السورة كذاوكذا dan القول فى تأويل كذاوكذا kemudian dikuatkan dengan riwayat-riwayat yang disandarkan kepada para sahabat, Tabi’in. Apabila ada dua pendapat atau lebih mengenai suatu ayat, beliau akan menguraikannya satu per satu dan didukung dengn riwayat-riwayat yang berkenaan dengannya dari para Sahabat dan Tabi’in.

At-Thabary sangat menentang keras para penafsir yang hanya menggunakan akalnya saja atau murni pemahaman bahasa tanpa berpegang pada riwayat para sahabat maupun tabi’in.

Dalam menghadirkan riwayat-riwayat tersebut, beliau sering kali tidak mensahihkan maupun mendaifkan riwayat yang beliau kutip. Inilah yang menjadi kelemahan tafsir ini karena dengan itu beliau terlihat seperti melepas tangung jawab. Meskipun terkadang beliau juga memberikan kritik terhadap riwayat-riwayat yang dimunculkan dengan menjarah ta’dilkan para perawi dalam riwayat tersebut. Contoh ketika beliau menerangkan ayat ke 94 dari surah al-Kahfi قالُوا يا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجاً عَلى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا(94

Dalam menerangkan kata  سد (dinding penghalang), beliau menampilkan sebuah riwayat yang menerangkan bahwa kata ini bisa dibaca sudda dengan harokat dlommah pada س yang artinya terbatas pada buatan/ciptaan Allah dan sadda dengan harakat fathah yang artinya khusus pada buatan manusia. Setelah menampilkan riwayat ini beliau memberikan kritik bahwa dalam rangkaian perawi dalam riwayat ini ada seorang yang bernama Harun yang beliau anggap tidak tsiqah.

Beliau memberikan otoritas yang tinggi terhadap hasil ijma’ ulama yang berkaitan dengan tafsir suatu ayat. Contoh pada tafsir surah al-Baqarah ayat 230

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Ayat ini menerangkan tentang bagaimana cara rujuknya seorang suami yang telah mentalak istrinya tiga kali. Secara tekstual syarat yang bisa membolehkan pasangan yang sudah talak tiga kali ialah istri harus menikah lagi dengan orang lain dan setelah talak barulah ia bisa menikah dengan suami yang pertama. Nah, perbedaan penafsiran muncul dalam memahami kata nikah di ayat ini.

Apakah nikah disini hanyalah akad ataukah harus terjadi hubungan suami istri? Ada pendapat yang mengatakan kata nikah disini maknanya ialah akad nikah plus terjadi jima’. Artinya jika istri tadi melakukan akad nikah kemudian talak sebelum jima’ atau jima’ tanpa akad nikah (berzina) maka ia dianggap belum memenuhi syarat untuk bisa rujuk kepada suami pertama. Kalau ada yang berargumen “bagaimana bisa jima’ menjadi syarat sedangkan dalam teksnya ia tidak disebutkan?” maka jawabnya (menurut al-Thabary) karena begitulah Ijma’ mengatakan.

Salah satu ciri khas lainnya dari tafsir ini ialah ketika beliau sampai pada perdebatan tafsir mengenai hal yang dalam pandangan beliau kurang bermanfaat ataupun tidak menjadi persoalan andai hal tersebut tidak diketahui, maka beliau akan cenderung mempersingkat penjelasannya. Contoh ketika pembahasan ayat ke 112 dari surah al-Maidah.

Artinya (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman”.

Ada perbedaan pendapat mengenai makanan/hidangan apakah yang dimaksud dalam ayat ini. Setelah beliau menyebutkan berbagai macam riwayat tentang hal ini, kemudian beliau berkomentar “yang pasti benar ialah bahwa hidangan tersebut bisa dimakan, bisa berupa ikan atau susu ataupun buah dari surga. Mengetahui hal ini tidaklah begitu bermanfaat dan tidak mengetahuinya pun tidak madlarot meskipun ayat setelahnya menjelaskan mengenai hal ini”.

Di samping itu semua, beliau juga menyebutkan berbagai macam kisah israiliyat dan macam-macam Qira’at. Untuk penjelasan yang lebih lengkap, dapat dirujuk di kitab al-Tafsir wal Mufassirun karya Imam Husan al-Dzahabi juz pertama.

Wallahu a’lam bis shawab

(Penulis adalah santri, pembelajar tafsir dan tutor bahasa Inggris)