Fakultas Ushuluddin Gelar Seminar untuk Hidupkan Tradisi Akademisi
Fakultas Ushuluddin IIQ An-Nur Yogyakarta mengadakan Seminar Nasional dengan tema “Paradigma, Teori, dan Model-Model Riset Living Qur’an dan Hadis,” Selasa (27/2).
Narasumber yang dihadirkan kali ini yaitu Ahmad Rofiq, MA., Ph. D., sebagai Dosen UIN Sunan Kalijaga dan Sihabul Millah, MA., salah satu dosen IIQ An-Nur. Moderatornya yakni Abdul Jabpar, M. Phil., yang juga berstatus sebagai dosen IIQ An-Nur Yogyakarta.
Berkaitan dengan tema seminar, para dosen Fakultas Ushuluddin sebenarnya
menganggap bahwa materi yang harus disampikan kali ini termasuk berat. Akan tetapi, hal ini justru membuat para audien sangat antusias untuk mengikuti acara tersebut. Antusiasme tersebut terbukti dari puluhan mahasiswa IIQ An-Nur dan beberapa mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang
memenuhi ruangan auditorium IIQ An-Nur Yogyakarta.

Foto diambil oleh Arif Setyawan

Dalam sambutannya, H. Ikhsanuddin, M.SI, selaku Dekan Fakultas Ushuluddin mengungkapkan bahwa kegiatan seminar umum ini adalah agenda rutin yang dilaksanakan setiap bulannya. Dengan maksud untuk menghidupkan tradisi akademis Fakultas Ushuluddin.
“Kami ingin menghidupkan miliu Fakultas Ushuluddin. Oleh karena itu, kami
mengadakan diskusi bulanan dengan mendatangkan narasumber dari dalam satu (Dosen IIQ) dan dari luar (selain IIQ) satu. Diskusi ini juga akan dilanjutkan pada bulan Maret. Sehingga akan menghidupkan tradisi akademisi Fakultas Ushuluddin,” ucap Ikhsan.

Foto diambil oleh Arif Setyawan

“Hijab seseorang untuk mendapatkan ilmu itu ada dua, yang pertama hijab khuluqi atau akhlak. Secara akhlak mahasiswa sini sudah tidak diragukan lagi. Karena setiap bertemu dengan dosen, mahasiswa pasti akan berjabat tangan. Kemudian yang kedua adalah hijab aqli, yakni penghalang berupa rasio yang bisa disingkap kemampuan berpikir yang bagus dan analisis, salah satunya melalui forum-forum diskusi,” tambahnya.
Pada akhir sambutannya ia menegaskan bahwa, “Fakultas Ushuluddin akan lebih baik dan lebih bagus bukan karena saya atau dosen yang lainnya, tetapi karena milik bersama.
Oleh karena itu, maju dan tidaknya Fakultas Ushuluddin tergantung kita bersama.” (FitriM/28/02/18)